Semarang, Infojateng.id – Dari sebuah studio sederhana dan pertemuan-pertemuan kecil yang dulu hanya diisi sesi jamming tanpa target, tiga nama kini resmi memperkenalkan diri ke publik musik Indonesia.
Sound The Shit, band yang digawangi Kareez (vokal, bass), Taqy Jun (gitar), dan Pungki (drum), membuka langkah debut mereka lewat single perdana berjudul “Dasar Posesif.”
Kelahiran karya ini menjadi penanda keseriusan mereka menapaki dunia hiburan, sekaligus titik temu pertama dengan para pendengar.
“Dasar Posesif” hadir dengan pendekatan yang lugas. Aransemen musiknya tidak rumit—bahkan cenderung sederhana—namun justru di situlah kekuatannya.
Nada-nada yang catchy membuat lagu ini mudah melekat di telinga, sementara liriknya memberi ruang bagi pendengar untuk ikut larut dan bernyanyi. Ia seperti percakapan yang dinyanyikan: ringan di permukaan, namun menyimpan kedalaman di balik setiap bait.
Lagu ini diciptakan oleh Wikha Setyawan, mantan jurnalis yang kini aktif menulis dan juga berkecimpung di dunia akting. Latar belakang kepenulisan itu terasa dalam pilihan diksi yang dialogis namun tetap ritmis. “Dasar Posesif” membaca asmara bukan sebagai ruang romantik yang manis, melainkan medan kuasa yang sunyi.
Liriknya sederhana, tapi menohok—cinta yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi penjara. Kalimat seperti “kau selalu bilang cinta, tapi kau ciptakan penjara” terasa seperti pengakuan banyak orang yang lama terjebak dalam relasi penuh klaim dan larangan. Di sini, cinta tak hadir sebagai perayaan, melainkan sistem kontrol yang dibungkus kata sayang.
Dalam konteks sosial, lagu ini menyinggung normalisasi sikap posesif yang kerap dianggap wajar. Atas nama cemburu, batas-batas dilanggar; atas nama cinta, kebebasan dipreteli perlahan. Tokoh “aku” digambarkan patuh, mengikuti kehendak pasangan hingga kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ini potret relasi timpang yang kerap ditemui—di pertemanan, keluarga, bahkan lingkungan kerja—ketika satu pihak merasa berhak mengatur hidup orang lain.
Bagian pre-chorus menjadi titik emosional yang jujur: keinginan akan “cinta yang biasa” dan “hubungan sederhana.” Tidak muluk, tidak heroik, namun justru terasa mewah ketika relasi dipenuhi tuntutan, kecurigaan, dan pengawasan.
Metafora “boneka” mempertegas hilangnya agensi—manusia direduksi menjadi objek yang digerakkan sesuai kemauan pemiliknya.
Menariknya, “Dasar Posesif” juga bisa dibaca sebagai alegori kekuasaan. Negara, institusi, atau pemimpin yang mengaku melindungi namun diam-diam membangun tembok pembatas.
Cemburu berubah menjadi dalih keamanan, rindu menjelma pengawasan, dan cinta tanah air disulap menjadi kewajiban patuh tanpa tanya. Chorus lagu ini terdengar seperti manifesto kecil: bahwa kepercayaan jauh lebih sehat daripada pengekangan.
Secara keseluruhan, lagu ini tidak berteriak, namun konsisten menekan. Repetisi lirik dan struktur musik yang memberi ruang hening justru memperkuat pesan. Ada momen ketika pendengar diajak berhenti, diam, lalu bertanya—apakah ini cinta, atau hanya penjara yang kebetulan disebut rumah.
Di Balik Perjalanan Sound The Shit
Perjalanan Sound The Shit bukan kisah instan. Taqy Jun, sang gitaris, telah lama bergelut di dunia musik sejak SMP (Sekolah Menengah Pertama), jatuh bangun sering ia alami dalam membangun sebuah band, demi mewujudkan mimpinya ia juga pernah ditipu orang semasa SMA (Sekolah Menengah Atas), sampai kemudian ditahun 2017 teman kuliahnya yang bernama Ady mengenalkan Pungki dan di tahun 2018 Pungki mengajak Kareez.
Dari pertemuan itu lahir proyek-proyek kecil: ngejam, tampil di kafe, hingga menulis lagu tanpa tekanan industri.
Langkah mereka sempat mendapat angin segar saat bertemu Purwo Wijayanto, yang kemudian menjadi eksekutif produser. Namun pandemi Covid-19 membuat perjalanan itu tersendat.
Masing-masing kembali pada realitas keseharian—Taqy bekerja di perusahaan manufactur di Semarang, Pungki di sebuah pabrik rokok di Demak, dan Kareez menjalani hari sebagai tukang parkir sekaligus mengamen.
Api yang sempat meredup kembali menyala di akhir 2025, ketika mereka bertemu Wikha Setyawan. Pertemuan itu seperti memantik bara lama yang belum sepenuhnya padam. Sound system kembali dinyalakan, gitar disetem ulang, dan drum kembali ditabuh. Dari proses tersebut, lebih dari 20 lagu disiapkan. “Dasar Posesif” dipilih sebagai pintu pembuka kehadiran mereka di 2026—sebuah perkenalan yang tidak hanya menawarkan musik, tetapi juga gagasan.
Kini, single tersebut sudah dapat didengar di berbagai platform musik digital, lengkap dengan video musik yang bisa dinikmati melalui kanal YouTube soundtheshit official.
Bagi Sound The Shit, debut ini bukan sekadar rilis lagu, melainkan pengumuman bahwa mereka siap berdiri—dengan suara, cerita, dan sikap yang ingin didengar. (eko/redaksi)

2 days ago
7

















































