JAKARTA, iNews.id - Anggota Komisi VIII DPR I Ketut Kariyasa Adnyana menyoroti rencana pelibatan sekitar 1.000 taruna Akademi Militer (Akmil) dalam masa orientasi program Sekolah Rakyat. Kariyasa menekankan, langkah tersebut harus dilakukan secara humanis.
Dia mengingatkan, Sekolah Rakyat punya tujuan memutus rantai kemiskinan dan memberikan akses pendidikan bagi kelompok masyarakat rentan, sehingga memiliki karakteristik khusus yang menuntut pendekatan berbasis pemberdayaan sosial.
Baca Juga
1.000 Taruna Akmil bakal Dikerahkan Bina Para Siswa di 178 Sekolah Rakyat
“Sekolah Rakyat dibangun untuk memperluas akses pendidikan dan pemberdayaan sosial. Karena itu, pendekatan yang digunakan harus tetap berlandaskan prinsip pendidikan yang humanis dan berpusat pada peserta didik,” kata Kariyasa dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
Legislator PDI Perjuangan (PDIP) itu juga menanggapi adanya kritik dari SETARA Institute mengenai potensi kaburnya batas antara ranah sipil dan militer lewat pelibatan taruna Akmil itu. Dia mengingatkan, pendidikan nasional memang memiliki ruang lingkup yang seharusnya dikelola oleh para pendidik, tenaga kependidikan dan pekerja sosial yang ahli di bidangnya.
Baca Juga
Prabowo: MBG, Cek Kesehatan Gratis hingga Sekolah Rakyat Investasi Masa Depan
“Fraksi PDI Perjuangan sangat mendukung penguatan karakter peserta didik. Namun, pembentukan karakter itu harus dilakukan dengan cara-cara yang tepat, yang mengedepankan nilai-nilai pendidikan nasional. Kita harus memastikan peran guru dan institusi sipil tetap menjadi aktor utama dalam setiap penyelenggaraan pendidikan,” ujarnya.
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

















































