Batang, infojateng.id – Suasana senyap dan gelap masih menyelimuti sebagian besar wilayah Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, hingga Jumat (6/3/2026).
Pasca-amukan angin puting beliung yang merobohkan puluhan pohon jati di sepanjang jalan Pantura Adinuso Subah hingga Gringsing pada Rabu (4/3/2026) sore, ribuan warga harus bersabar melewati malam ketiga tanpa aliran listrik.
Di tengah rintik hujan dan ancaman cuaca ekstrem yang belum mereda, puluhan petugas berseragam kuning tampak berjibaku di antara kabel-kabel yang menjuntai dan tiang beton yang tumbang.
Manajer PLN UP3 Pekalongan Hendra Irawan menganalogikan, kerusakan masif ini seperti sistem peredaran darah manusia.
Pemulihan harus dilakukan bertahap dari jalur terbesar sebelum menyentuh ke pemukiman warga.
“Ibaratnya kalau urat nadi, ada jalur utama dan urat yang kecil-kecil; peredaran darah ini harus lancar dulu yang utama baru bisa ke yang kecil-kecil,” kata Hendra saat meninjau lokasi perbaikan di Jalan Pantura Subah, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jumat (6/3/2026).
Skala kerusakan memang cukup mencengangkan. Data PLN mencatat ada 44 tiang utama yang roboh berserakan di sepanjang jalur 10 kilometer dari Plelen hingga Subah.
Dampaknya tak main-main, sebanyak 130.775 pelanggan di wilayah kerja PLN Pekalongan sempat terdampak pemadaman massal.
“Perjuangan tim di lapangan bukan tanpa kendala. Bahwa tantangan terbesar bukanlah jumlah personel, melainkan alam yang sedang tidak bersahabat. PLN bahkan telah mengerahkan “kekuatan penuh” dengan mendatangkan bantuan tim dari Semarang, Kudus, hingga Surakarta,” ungkapnya.
Total ada 14 tim yang bekerja non-stop. Namun, seringkali kerja keras mereka mentah kembali akibat cuaca.
“Sudah selesai dikerjakan jam 2 siang, jam 3 kerobohan (pohon) lagi, Pak. Memang tantangannya adalah cuaca ekstrem ini yang bisa menyebabkan sewaktu-waktu pohon itu tumbang lagi,” ungkapnya.
Ia juga menekankan, bahwa keselamatan teknisi adalah prioritas utama, terutama saat proses penyambungan kabel tegangan tinggi.
“Untuk menyambung kabel memang tidak boleh dalam kondisi hujan. Kalau dalam kondisi hujan, malah bisa terjadi kegagalan,” imbuhnya.
Menyadari keresahan warga yang sudah memasuki hari ketiga dalam kegelapan, PLN menyiapkan strategi cadangan berupa rekayasa jaringan.
Jika perbaikan jalur utama belum rampung hingga tengah malam, pasokan listrik akan “disuntikkan” dari wilayah Batang melalui jalur selatan.
Hendra Irawan juga menyampaikan, permohonan maaf yang mendalam atas ketidaknyamanan ini. Ia menegaskan bahwa seluruh personel bekerja 3×24 jam tanpa henti untuk mengembalikan terang ke rumah-rumah warga.
“Kami memahami risau dan mungkin kekhawatiran masyarakat yang sudah hampir 3 hari 2 malam menunggu kenapa kok tidak nyala-nyala. Jadi kami di sini pastikan kita bekerja 3×24 jam non-stop mengerahkan semua tim yang ada,” tegasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kecamatan Subah bergerak cepat memitigasi dampak sosial.
Camat Subah M. Yasin menyebutkan, dari 12 desa yang terdampak, baru 6 desa yang berhasil menyala hingga Jumat sore.
Untuk desa-desa yang masih gelap, Yasin menginstruksikan penyediaan energi darurat sesuai arahan Bupati Batang M Faiz Kurniawan.
“Kami memastikan adanya genset. Minimal satu posko genset per desa, untuk menerangi atau mungkin bisa digunakan untuk tambahan daya kecil seperti mengisi daya HP agar komunikasi warga tetap berjalan,” terangnya.
Hingga kini, fokus utama petugas berada di dua titik krusial, yakni jalur utama Subah dan area di utara Pasar Gondang.
“Dukungan dari Kepolisian dan Dishub juga dikerahkan untuk membantu pengamanan kabel yang melintasi jalan raya agar proses penarikan kabel berjalan lancar,” tandasnya. (eko/redaksi)

1 day ago
10

















































