Malam Satu Suro 1960: Refleksi “Hijrah Diri” dan Sejarah Gubahan Sultan Agung Mataram

3 hours ago 3

Jepara, infojateng.id – Masyarakat Jawa malam ini (15/6/2026) menyambut datangnya Malam Satu Suro yang menandai bergantinya Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960.

Bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 1448 Hijriah, momentum ini kembali menjadi pengingat pentingnya akulturasi budaya yang harmonis serta refleksi spiritual yang mendalam bagi masyarakat.

Bagi masyarakat modern, Malam Satu Suro kerap kali diasosiasikan dengan atmosfer mistis. Namun, jika dibedah dari kacamata sejarah dan kajian budaya, perayaan ini sejatinya merupakan ruang untuk introspeksi diri dan pembersihan batin.

Jejak Sejarah: Gubahan Sultan Agung Mataram

Sistem penanggalan Jawa yang kita kenal hari ini tidak lepas dari peran besar Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam, pada abad ke-17 Masehi.

Guna mempersatukan masyarakat kala itu, Sultan Agung melakukan langkah jenius dengan memadukan sistem kalender Saka (Suryasengkala) yang berbasis matahari dengan kalender Hijriah yang berbasis bulan (Chandrasengkala).

Sejak saat itulah, tanggal 1 Muharam ditetapkan juga sebagai 1 Suro. Langkah ini menjadi bukti nyata bagaimana ajaran Islam dapat melebur dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan nilai-nilai esensial agama.

Filosofi “Kosong” dan Semangat Hijrah

Lebih dari sekadar pergantian angka di kalender, Malam Satu Suro menyimpan filosofi kehidupan yang kuat. Pakar budaya menyebutkan bahwa kata “Suro” juga berdekatan makna dengan kesucian atau kebersihan.

Ada empat pilar filosofi utama yang terkandung dalam momen ini:

  • Momen Hijrah Diri: Mengadopsi esensi peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW, masyarakat diajak untuk bermigrasi secara spiritual—meninggalkan sifat buruk menuju akhlak yang lebih mulia.

  • Filosofi Angka Satu: Angka satu atau awal bulan melambangkan lembaran putih yang bersih. Manusia diajak memulai tahun dengan hati yang bersih dari dendam dan iri hati.

  • Keheningan Batin: Berbeda dengan tahun baru masehi yang dirayakan dengan pesta pora, Satu Suro justru dirayakan dalam sepi dan ketenangan sebagai modal meraih kebaikan di masa depan.

Tradisi yang Hidup: Dari Tirakatan hingga Sedekah

Hingga malam ini, berbagai wilayah di Jawa masih melestarikan tradisi turun-temurun untuk menghayati pergantian tahun Jawa ini. Beberapa ritual yang dilakukan warga antara lain:

1. Tirakatan: Tradisi duduk bersila, merenung, dan memperbanyak doa semalam suntuk untuk memohon ampunan dan petunjuk di tahun yang baru.

2. Ziarah Makam: Mengunjungi makam leluhur atau tokoh agama untuk mendoakan mereka sekaligus mengingat jasa-jasa yang telah ditinggalkan.

3. Selamatan dan Sedekah: Menggelar doa bersama tetangga dan berbagi makanan sebagai wujud syukur atas berkah hidup.

Meluruskan Mitos yang Keliru

Seiring berjalannya waktu, Malam Satu Suro kerap diselimuti mitos gaib dan berbagai larangan tanpa dasar. Melalui pelestarian literasi budaya, masyarakat kini diajak untuk melihat Satu Suro dari sisi yang murni: yakni sebagai ajakan untuk introspeksi diri, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selamat menyambut Malam Satu Suro 1960 dan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H. Semoga tahun ini membawa kedamaian dan transformasi diri yang lebih baik. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |