Kisah Mbah Jamin dan Istri di Balik Kelincahan Ledek Kethek

2 months ago 7

Blora, Infojateng.id — Suasana di depan Cafe KUMA yang berlokasi di Jl. Bhayangkara, Nglawiyan, Kabupaten Blora mendadak riuh oleh gelak tawa anak-anak, Minggu (8/3/2026) pagi.

Di sana, seekor monyet kecil tampak percaya diri menirukan gerak-gerik manusia, mulai dari memikul keranjang ke pasar hingga berakrobat naik motor mini, diiringi musik khas yang memantik nostalgia.

Dibalik keriuhan atraksi Ledek Kethek—sebutan populer di Blora untuk Topeng Monyet atau Tandhak Bedhes—ada sepasang raga senja yang masih gigih menjemput rezeki.

Mereka adalah Mbah Jamin (83) dan istrinya, Mbah Karmi (79), pasangan suami istri asal Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora.

Sudah lebih dari satu dekade Mbah Jamin menekuni profesi ini setelah pensiun sebagai petani hutan.

Meski keenam anaknya kini telah mandiri di perantauan seperti Jakarta dan Lampung, Mbah Jamin memilih untuk tidak berpangku tangan.

Siklus hidupnya pun unik; seminggu mengamen di pusat kota Blora, seminggu beristirahat di kampung halaman.

Selama di Blora, rumah mereka adalah emperan Stasiun Blora. Di tengah keterbatasan, keduanya tetap teguh menjalankan ibadah puasa Ramadan.

“Sahur dan buka seadanya, kadang ada yang memberi. Gusti Allah boten sare (Allah tidak tidur),” ungkap Mbah Jamin tulus.

Penghasilannya rata-rata Rp50 ribu per hari, tentu bukan angka yang besar di zaman sekarang.

Namun, Minggu pagi itu menjadi istimewa. Pasangan ini menerima paket sembako dan sejumlah uang sebagai bekal THR menjelang Idulfitri.

Bagi Mbah Jamin, profesi ini bukan sekadar urusan perut, melainkan pengejawantahan dari falsafah hidup ajaran Sunan Kalijaga: “Urip Iku Urup”.

“Hidup itu harus menyala. Manusia harus memberi manfaat bagi sesama, seperti api yang menerangi kegelapan dan memberi kehangatan,” tuturnya dengan filosofi yang mendalam.

Sementara itu tokoh masyarakat setempat, Bambang Sulistya, mengungkapkan kisah Mbah Jamin dan Mbah Karmi adalah potret ketegaran di tengah sulitnya ekonomi.

“Mereka mengajarkan kita tentang nrimo ing pandum (menerima pemberian Yang Kuasa) dan pentingnya optimisme,” ungkap Bambang, yang mendapat amanah menggelar acara itu.

“Di balik kelucuan atraksi monyet yang mereka bawa, terselip niat tulus untuk menghibur dan memberikan secercah kegembiraan bagi lingkungan sekitar,” lanjutnya.

Hingga musik pengiring berhenti, sosok mereka seolah mengingatkan kita semua: bahwa di atas penghasilan yang tidak menentu, rasa syukur adalah kekayaan yang sesungguhnya. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |