Jakarta, infojateng.id – Film Kartini karya sutradara Hanung Bramantyo diputar dalam rangkaian pameran seni ukir TATAH yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia (MNI), Sabtu (11/7/2026).
Pemutaran film tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali sosok dan pemikiran R.A. Kartini, sekaligus mengangkat warisan seni ukir Jepara yang telah dikenal hingga mancanegara.
Kegiatan ini dihadiri Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar, Direktur Film, Animasi, dan Video Kementerian Ekonomi Kreatif Doni Setyawan, sutradara Hanung Bramantyo, serta canggah R.A. Kartini, Joddy Mulyasetya Putra.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar mengatakan bahwa Kartini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Jepara, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia. Menurutnya, bagi masyarakat Jepara, Kartini bukan sekadar nama yang diabadikan menjadi jalan, gedung, maupun objek wisata, melainkan semangat yang terus hidup dalam kehidupan masyarakat.
“Di Jepara, Kartini bukan hanya nama seorang pahlawan. Kartini adalah semangat yang terus hidup untuk belajar, berpikir merdeka, dan membuka kesempatan bagi sesama,” ujar Hajar.
Wakil Bupati berharap, agar para penonton utamanya generasi muda bisa meneladani semangat dan nilai-nilai Kartini yang disampaikan melalui pemutaran film ini.
“Kartini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir, bertanya, dan berbuat bagi kemajuan bersama”, kata Hajar.
Pada sesi bedah film, Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa film Kartini tidak hanya berbicara mengenai emansipasi perempuan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana gagasan emansipasi diterjemahkan dalam berbagai bidang kehidupan, khususnya ekonomi.
“Film ini bukan hanya berbicara tentang emansipasi, tetapi bagaimana emansipasi ditransformasikan ke dalam banyak bidang. Yang saya pilih dalam film ini adalah ekonomi, karena dampaknya masih terasa hingga sekarang,” kata Hanung.
Ia menjelaskan, proses penyusunan film dilakukan dengan menggali ratusan surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, terutama yang membahas persoalan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Dalam film tersebut diceritakan bagaimana Kartini berhasil mengangkat seni ukir Jepara dari yang semula dipandang sebelah mata hingga mampu menembus pameran internasional di Den Haag, Paris, dan Osaka.
Hanung juga mengungkapkan bahwa film yang diputar merupakan versi Director’s Cut yang pernah ditayangkan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah konferensi tentang perempuan.
“Versi yang diputar hari ini adalah Director’s Cut yang pernah ditampilkan di PBB saat konferensi tentang perempuan. Mereka ingin melihat dokumenter feminis dari Indonesia, termasuk bagaimana Kartini memperjuangkan masyarakat di sekitarnya hingga membuat perjanjian pranikah yang pada masa itu merupakan gagasan yang sangat maju,” ungkapnya.
Menurut Hanung, masih banyak pemikiran Kartini yang belum dapat dimasukkan ke dalam film karena keterbatasan durasi. Ia berharap film tersebut dapat menjadi pemantik agar masyarakat terdorong mempelajari lebih dalam gagasan-gagasan Kartini.
Ia juga menyampaikan harapannya agar Jepara terus memperkuat jati dirinya melalui warisan Kartini dan seni ukir, termasuk mendukung revitalisasi Pendopo Kabupaten Jepara sebagai Museum Kartini dengan tetap mempertahankan nuansa sejarah pada masanya.
Pemutaran film berlangsung dengan antusiasme tinggi. Ruang teater Museum Nasional Indonesia dipenuhi penonton yang mengikuti jalannya film hingga selesai. Suasana haru menyelimuti ruangan ketika kisah perjuangan Kartini ditampilkan di layar, menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diwariskannya masih relevan dan terus menginspirasi hingga saat ini.(eko/redaksi)

1 day ago
4

















































