Batang, infojateng.id – Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Malam Satu Suro 1960 Tahun Jawa menjadi momentum sakral bagi masyarakat Kabupaten Batang untuk melestarikan tradisi leluhur.
Salah satu prosesi yang rutin digelar adalah jamasan Pusaka Kyai Tombak Abirawa beserta puluhan pusaka pengiring sebagai simbol penyucian diri dan pelestarian warisan budaya.
Prosesi jamasan berlangsung di Pendopo Kabupaten Batang, Senin (15/6/2026) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Malam Satu Suro yang setiap tahun diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Batang.
Ahli waris Pusaka Kyai Tombak Abirawa, Raden Susanto Waluyo, mengatakan jamasan pada Malam Satu Suro memiliki makna dan tata cara yang berbeda dibandingkan perawatan pusaka pada hari-hari biasa.
“Malam ini ada 10 tombak dan dua keris pusaka yang akan dijamas. Mayoritas pusaka tersebut berusia lebih dari 200 tahun sehingga memerlukan perlakuan khusus,” ujarnya.
Menurutnya, pusaka-pusaka berusia ratusan tahun tersebut rutin dibersihkan setiap bulan. Namun khusus pada Malam Satu Suro, proses jamasan dilakukan secara lengkap menggunakan air bunga dan berbagai ubarampe tradisional sebagai bagian dari ritual penyucian.
Ia bersama keluarga besar ahli waris Pusaka Kyai Tombak Abirawa berterima kasih kepada Pemkab Batang, karena telah menyediakan ruang penyimpanan khusus.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Tosanaji Batang, Ibnu Kharis bersama anggota secara intens mendampingi tiap kali Pemkab Batang melakukan prosesi penjamasan pusaka dengan menggelar pameran pusaka. Sebagai pemerhati benda pusaka, ia meyakini tiap pusaka memiliki daya magis atau kemanfaatan sesuai peruntukannya.
“Contoh Keris “Brojol”, tentu dibuat empu untuk memudahkan segala sesuatu misal membantu menyelesaikan permasalahan, bahkan saat proses melahirkan dan lainnya,” jelasnya.
Dalam memeriahkan prosesi penjamasan, Paguyuban Tosanaji turut memamerkan 30 bilah keris pusaka. Di antaranya, Keris Megantoro era Ken Arok, dibuat sekitar abad ke-13, Tilam Upih, Jalak, Singo Barong, hingga Nogo Sosro dan lainnya.
“Beberapa uborampe yang disiapkan seperti juwadah pasar seperti pisang raja, air kelapa, termasuk air bunga, kain mori, kuas, minyak pusaka, dupa,” ungkapnya.
Kepala Disdikbud Batang Bambang Suryantoro Sudibyo menambahkan, jumlah pusaka keseluruhan yang dijamas sebanyak 62 bilah. Proses penjamasan telah dilakukan sejak Senin pagi di komplek Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Batang.
“Pusaka yang dijamas 56 tombak, 5 keris dan 1 pedang. Puncaknya malam ini penjamasan Kyai Tombak Abirawa beserta, Payung Tunggul Pangayom, keris dan pusaka pengiring lainnya,” terangnya.
Sebelumnya Pusaka Kyai Tombak Abirawa beserta pengiring telah dikirab mengelilingi komplek Kantor Bupati dan dilanjutkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Gatotkaca Winisudha oleh Dalang Ki Beta Ardana.
Usai menyaksikan pagelaran wayang, Bupati Batang M Faiz Kurniawan mengharapkan, melalui prosesi penjamasan ini menjadi pengingat generasi muda untuk melestarikan tradisi leluhur pendiri Kabupaten Batang.
“Semoga selama setahun ke depan seluruh warga Batang dilancarkan segala kepentingannya. Sedangkan jamasan sebagai tradisi akan terus dilestarikan termasuk dengan mengikutsertakan pejabat dalam segala prosesinya,” ujar dia. (eko/redaksi)

7 hours ago
3

















































