JAKARTA, iNews.id – Indonesia sudah hampir enam dekade menghadapi demam berdarah dengue (DBD). Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari pengendalian nyamuk, perbaikan tata laksana pasien hingga pengembangan inovasi pencegahan.
Namun, penyakit yang pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968 itu hingga kini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Pertanyaannya, mengapa setelah 58 tahun DBD masih belum juga hilang dari Indonesia?
Baca Juga
Waspada! Kekeringan Jakarta September 2026 Bisa Jadi Surga Nyamuk DBD
Kasus DBD pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968 melalui kejadian luar biasa (KLB) di Jakarta dan Surabaya. Saat itu tercatat 58 kasus dengan 24 kematian. Tingkat kematian bahkan mencapai 41,3 persen.
Situasi tersebut kini telah berubah jauh. Kemajuan dalam diagnosis, tata laksana kasus, serta berbagai upaya pengendalian membuat tingkat kematian akibat dengue berhasil ditekan hingga di bawah 1 persen.
Baca Juga
Anak-Anak Rentan Kena DBD, Kemenkes Minta Sekolah Jadi Garda Terdepan!
Namun, turunnya angka kematian bukan berarti persoalan DBD selesai.
Mengapa DBD Masih Sulit Diberantas?
Salah satu tantangan utama adalah dengue masih dapat ditemukan di berbagai wilayah dan menyerang siapa saja, tanpa memandang usia maupun gaya hidup.
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

















































