LAMPUNG SELATAN, iNews.id – Aktivitas vulkanikGunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam sepekan terakhir, gunung api aktif ini tercatat sudah mengalami tiga kali erupsi berturut-turut, hingga membuat statusnya dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Merespons kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lampung Selatan langsung memperketat koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api guna memperkuat langkah mitigasi kebencanaan.
Baca Juga
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Sempat Tenang sejak 2024
Berdasarkan data pos pengamatan, rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi berturut-turut pada Kamis (2/7/2026), Jumat (3/7/2026), dan Minggu (5/7/2026). Semburan abu dan material vulkanik dari dalam kawah dilaporkan mencapai ketinggian 10 hingga 200 meter dari puncak.
Selain melontarkan material vulkanik, aktivitas kegempaan di perut gunung juga meningkat drastis.
Baca Juga
Aktivitas Vulkanis Gunung Anak Krakatau Meningkat, Status Level II Waspada
Tercatat terjadi gempa tremor menerus (microtremor) dengan amplitudo maksimum mencapai 23 milimeter.
Mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk, petugas Damkarmat, Basarnas, dan BPBD Lampung Selatan terus bersiaga dan melakukan pemantauan melekat di Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau yang berada di Desa Hargo Pancuran.
Langkah ini diambil agar tim gabungan bisa mendapatkan data real-time dan cepat menyusun skenario evakuasi jika aktivitas magmatik gunung semakin membahayakan pemukiman pesisir.
"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang, tidak panik, serta tidak mudah mempercayai informasi atau hoaks yang belum jelas kebenarannya terkait aktivitas gunung," kata Kabid Damkarmat Lampung Selatan, Rully Fikriansyah, Senin (6/7/2026).
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Suwarno menjelaskan, rentetan erupsi yang terjadi belakangan ini sebenarnya masih merupakan bagian dari fase pertumbuhan dan aktivitas normal sebuah gunung api aktif. Namun, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan.
"Pemantauan visual dan seismik kini kami lakukan jauh lebih ketat mengingat status gunung sudah berada di Level III Siaga," kata Suwarno.
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow


















































