JAKARTA, iNews.id - Energi panas bumi Gunung Salak memiliki potensi baru melalui pengembangan aset karbon dari pengurangan emisi. Potensi tersebut berasal dari peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak yang dapat dikembangkan menjadi aset bernilai ekonomi.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan percepatan transisi energi menjadi penting di tengah dinamika geopolitik global yang turut memengaruhi ketersediaan energi.
Baca Juga
PLN IP Kembangkan 4 Proyek PLTS 490 MW, Dukung Target Energi Surya 100 GW
“Dinamika geopolitik global menunjukkan bahwa ketersediaan energi menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Karena itu, Indonesia perlu terus mendorong kemandirian dan swasembada energi melalui peningkatan pasokan, pembangunan infrastruktur, serta percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ujar Yuliot di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Potensi energi panas bumi Gunung Salak kemudian dikembangkan tidak hanya dari sisi pembangkitan listrik. Peningkatan kapasitas PLTP juga diarahkan untuk menghasilkan potensi pengurangan emisi yang dapat dikembangkan menjadi aset karbon.
Baca Juga
PLN Garap Panas Bumi Jadi Listrik 45 MW di Lampung-Sulut, Gandeng Pertamina
Pengembangan aset karbon PLTP Gunung Salak ditandai dengan penandatanganan Second Amendment to Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk proyek Capacity Upgrade of Gunung Salak Geothermal Power Plant Project Indonesia.
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

















































