WASHINGTON, iNews.id - Para analis mengungkap nilai kerugian akibat kebakaran lahan Los Angeles sebagai yang paling besar dalam sejarah Amerika Serikat (AS). California kerap dilanda kebakaran lahan dan hutan, namun peristiwa tahun ini dianggap yang paling merugikan.
Pasalnya api melahap area yang luas di Los Angeles County, tempat perumahan elite milik pengusaha dan para pesohor Hollywood.
Baca Juga
Pengumuman Nominasi Oscar 2025 Ditunda Gara-Gara Kebakaran Los Angeles
Api dengan cepat menyebar karena angin kering yang berembus kencang, sehingga tak bisa diantisipasi penyebarannya. Kebakaran melanda lima lokasi termasuk Pacific Palisades dan Hollywood Hills, tempat permukiman mewah dan lokasi ikonik dan penting.
Manajer Humas perusahaan media AccuWeather, Bill Wadell, menyampaikan perkiraan awal kerugian akibat kebakaran di dan sekitar Los Angeles yakni 135 miliar hingga 150 miliar dolar AS (Rp2.188 triliun hingga Rp2.431 triliun).
Baca Juga
Penyebab Kebakaran Los Angeles Angin Santa Ana, Apa Itu?
"AccuWeather meningkatkan perkiraan awal untuk total kerusakan dan kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan California Selatan menjadi 135 miliar hingga 150 miliar dolar," kata, Wadell di media sosial X.
Perusahaan sebelumnya membuat perkiraan awal yakni antara 52 miliar hingga 57 miliar dolar AS.
Baca Juga
Dahsyatnya Kebakaran Los Angeles, Joe Biden dan Kamala Harris Batalkan Kunjungan Luar Negeri
Dia menambahkan, nilai kerugian sangat bertambah. Para ahli meteorologi memperkirakan angin kencang meningkatkan risiko meluasnya kebakaran pada pekan depan.
Sheriff Los Angeles County Robert Luna mengatakan, kerusakan disebabkan oleh kebakaran lahan bisa dibandingkan dengan dampak bom nuklir yang dijatuhkan di daerah tersebut.
Baca Juga
5 Fakta Terbaru Kebakaran Dahsyat Los Angeles, Rumah Para Bintang Hollywood Ludes
Surat kabar The Wall Street Journal, mengutip analis JPMorgan, Jimmy Bhullar, sebelumnya melaporkan kerugian ekonomi akibat bencana tersebut diproyeksikan mencapai hampir 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp810,4 triliun. Angka tersebut dua kali lipat dibandingkan estimasi yang dikeluarkan sehari sebelumnya.