PURBALINGGA, iNews.id – Talas yang selama ini banyak dijumpai di wilayah Banyumas dan Purbalingga mulai dikembangkan menjadi bahan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melatih 24 kader Posyandu Desa Senon, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, mengolah talas menjadi menu PMT yang tidak hanya menarik bagi anak, tetapi juga memenuhi kebutuhan gizi.
Pelatihan yang berlangsung di Balai Desa Senon tersebut mengangkat talas (Colocasia esculenta) sebagai bahan pangan lokal utama. Para kader mempraktikkan pembuatan dua menu, yakni Kroket Talas dan Bolu Kukus Talas, mulai dari pengolahan bahan, proses pemasakan hingga penyajian.
Baca Juga
ICC Unsoed 2026, OVO Ajak Mahasiswa Melek Finansial di Era Digital
Kegiatan ini tidak sekadar mengajarkan keterampilan memasak. Para kader juga dibekali pengetahuan untuk menilai kandungan gizi makanan sehingga PMT yang disajikan benar-benar mendukung pemenuhan kebutuhan gizi balita.
PMT Harus Penuhi Energi dan Protein
Sebelum praktik memasak, tim memberikan materi mengenai kebutuhan gizi balita dengan mengacu pada Permenkes Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi serta Petunjuk Teknis PMT Berbahan Pangan Lokal dari Kementerian Kesehatan RI.
Baca Juga
Mahasiswa Antusias Saksikan Langsung Program Rakyat Bersuara di ICC Unsoed
Tim menekankan bahwa PMT merupakan makanan tambahan dan bukan pengganti makanan utama. Untuk balita usia 24–59 bulan, satu kali pemberian PMT idealnya menyumbang sekitar 300–450 kilokalori energi dan 6–18 gram protein.
Selain energi dan protein, kader diperkenalkan dengan rasio protein terhadap energi atau protein energy ratio (PER). Rasio tersebut dianjurkan berada pada kisaran 10–16 persen.
Menurut tim, indikator tersebut penting karena makanan yang memiliki kandungan energi cukup belum tentu memenuhi kriteria PMT yang baik apabila kandungan proteinnya rendah.
“Selama ini PMT sering dinilai dari rasa dan tampilannya saja. Padahal, yang menentukan keberhasilan pencegahan stunting adalah kecukupan protein, terutama protein hewani. Talas kami posisikan sebagai pengganti nasi, tetapi nilai gizinya tetap ditentukan oleh lauk yang menyertainya,” ujar Ernis Asanti, anggota tim pengabdian sekaligus dosen Ilmu Gizi.
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

















































