SANGIHE, iNews.id - Dodol wajik menjadi salah satu kuliner tradisional khas Kepulauan Sangihe yang masih digemari masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) hingga daerah lainnya. Penganan bercita rasa manis dan legit ini dibuat secara tradisional dan membutuhkan ketelitian serta kesabaran karena harus terus diaduk hingga teksturnya mengental.
Dodol wajik, biasanya disajikan dalam berbagai kegiatan masyarakat Nusa Utara, Sulut. Penganan ini kerap hadir dalam acara adat Tulude, perayaan tahun baru, hingga syukuran keluarga.
Baca Juga
Tradisi Pojhien di Bondowoso, Atraksi Menari di Ujung Bambu 12 Meter Tanpa Pengaman
Salah satu warga asal Biaro, Kepulauan Sitaro, Anti Paransi masih mempertahankan cara pembuatan dodol wajik secara turun-temurun. Kini tinggal di Kelurahan Madidir Unet, Kota Bitung, Anti tetap menggunakan metode tradisional dalam membuat penganan tersebut.
"Dodol terbuat dari beras ketan dicampur dengan beras biasa. Ini dibuat khusus nanti ada acara seperti Turude, syukuran keluarga," kata Anti, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga
Tradisi Tabuh Panci Warnai Pencarian Bocah Hilang di Jember, Berakhir Pilu
Dibuat Menggunakan Tungku Tradisional
Proses pembuatan dodol wajik menjadi salah satu kuliner tradisional khas Kepulauan Sangihe yang masih digemari masyarakat. (Foto: iNews).Dalam proses pembuatannya, Anti masih menggunakan pelepah kelapa dan kayu kering sebagai bahan bakar. Adonan dimasak menggunakan kuali hingga mencapai tingkat kematangan dan kekentalan yang sesuai.
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow


















































