Generasi AI Dimulai dari Bangku SD, Mengapa Critical Thinking Jadi Kunci?

2 weeks ago 12

JAKARTA, iNews.id Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga mengambil keputusan. Namun, kemampuan berpikir kritis tetap diperlukan. 

Ya, di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, kemampuan berpikir kritis (critical thinking) kini dinilai menjadi bekal utama yang harus dimiliki generasi muda sejak usia dini.

UNY Dorong Perempuan Diaspora Indonesia di Malaysia Mandiri lewat AI

Baca Juga

UNY Dorong Perempuan Diaspora Indonesia di Malaysia Mandiri lewat AI

Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan AI dan perkembangan teknologi akan mengubah sekitar 86 persen model bisnis di dunia. Transformasi tersebut diprediksi melahirkan sekitar 170 juta pekerjaan baru, namun di saat yang sama juga menggantikan sekitar 92 juta jenis pekerjaan yang ada saat ini.

Perubahan itu membuat kebutuhan dunia kerja tidak lagi hanya bertumpu pada kemampuan akademik semata. Keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, hingga adaptasi terhadap perubahan justru menjadi kompetensi yang paling dicari di era AI.

Telkom Perkuat Transformasi Digital UMKM di Wilayah 3T melalui Program Rural Youth AI Facilitator

Baca Juga

Telkom Perkuat Transformasi Digital UMKM di Wilayah 3T melalui Program Rural Youth AI Facilitator

Sayangnya, kesiapan pelajar Indonesia dalam aspek tersebut masih menjadi tantangan. Berdasarkan hasil PISA Creative Thinking 2022, hanya sekitar 5 persen siswa Indonesia yang berhasil mencapai level tertinggi dalam kemampuan berpikir kreatif. Angka tersebut masih tertinggal jauh dibandingkan rata-rata negara anggota OECD yang mencapai 27 persen.

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |