JAKARTA, iNews.id - Banyak titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah di tengah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Guru Besar Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Prof H Gusti Hardiansyah, mengingatkan data hotspot perlu diverifikasi langsung sebelum disimpulkan sebagai titik kebakaran.
Menurut Gusti, kemunculan hotspot tidak otomatis menunjukkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Data dari Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu melalui proses ground truthing atau pengecekan langsung di lapangan.
Baca Juga
Breaking News: 72 Orang Jadi Tersangka Karhutla di Sumatra hingga Kalimantan
“Kalau saya lihat nih, kita harus bedakanlah dengan data ya. Saya merasa seminggu ini terlalu panik. Pemberitaan-pemberitaan itu panik kesannya. Padahal di lapangan ya, yang paling perlu itu kan, data tadi dibilang data hotspot dari SiPongi, dari BMKG, itu kan perlu di ground truthing ya,” kata Gusti dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).
Dia mencontohkan sejumlah hotspot yang sebelumnya terdeteksi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Setelah BNPB bersama tim melakukan pengecekan langsung, titik yang benar-benar menunjukkan adanya kebakaran ternyata lebih sedikit dibanding data hotspot awal.
Baca Juga
Menlu Sugiono Hubungi Negara Tetangga yang Terdampak Asap Karhutla
Gusti meminta masyarakat tidak langsung panik saat melihat peningkatan hotspot. Dia mengakui risiko Karhutla tetap tinggi di tengah kondisi El Nino, tetapi peningkatan risiko perlu diimbangi dengan kesiapan penanganan.
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow


















































