Ini Pengakuan Pejabat AS yang Masukkan Jurnalis ke Grup Obrolan Menteri Bahas Perang

1 week ago 9

WASHINGTON, iNews.id - Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Michael Waltz bertanggung jawab atas skandal bocornya rencana serangan ke Yaman. Dia secara tidak sengaja Pemimpin Redaksi Majalah The Atlantic Jeffery Goldberg ke grup obrolan Signal berisi para menteri dan pejabat Amerika Serikat (AS).

"Yah, lihat, seorang staf tidak bertanggung jawab. Lihatlan, saya bertanggung jawab penuh. Saya yang membuat grup itu, tugas saya memastikan semua saling terkoordinasi," kata Waltz, kepada Fox News, dikutip Rabu (26/3/2025).

Heboh Jurnalis Tak Sengaja Dimasukkan Grup para Menteri AS Bahas Perang, Ini Isi Percakapannya

Baca Juga

Heboh Jurnalis Tak Sengaja Dimasukkan Grup para Menteri AS Bahas Perang, Ini Isi Percakapannya

Waltz juga membantah sengaja memasukkan Goldberg ke dalam grup yang di dalamnya ikut bergabung Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan lainnya.

"Saya baru saja berbicara dengan Elon (Musk) dalam perjalanan ke sini. Kita punya ahli teknis terbaik untuk menyelidiki bagaimana ini terjadi. Namun, saya bisa sampaikan 100 persen, tidak mengenal orang ini (Goldberg)," ujarnya.

Gedung Putih Tak Sengaja Masukkan Jurnalis ke Grup Menteri Bahas Perang, Menhan Tolak Disalahkan

Baca Juga

Gedung Putih Tak Sengaja Masukkan Jurnalis ke Grup Menteri Bahas Perang, Menhan Tolak Disalahkan

Dalam artikelnya pada Senin, Goldberg menyebut seorang pejabat tinggi AS secara tidak sengaja memasukkannya ke dalam grup obrolan Signal membahas serangan terhadap kelompok Houthi Yaman.

Grup obrolan itu diberi nama "PC Houthi". Di dalamnya terjadi diskusi politik, di antaranya melibatkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Wakil Presiden JD Vance, serta Penasihat Keamanan Nasional Michael Waltz.

Geger! Jurnalis Ini Tak Sengaja Dimasukkan Grup Obrolan Para Menteri AS Bahas Serangan ke Yaman

Baca Juga

Geger! Jurnalis Ini Tak Sengaja Dimasukkan Grup Obrolan Para Menteri AS Bahas Serangan ke Yaman

Dari percakapan itu, dia mengetahui segala pembicaraan dalam grup, termasuk serangan ke Yaman pada 15 Maret, 2 jam sebelum rencana dieksekusi. 

Goldberg tak secara rinci menjelaskan isi percakapan dalam grup karena akan memiliki konsekuensi hukum, apalagi terkait rahasia militer. Namun dia menegaskan bahwa informasi rahasia masuk dalam percakapan obrolan grup.

“Informasi yang terkandung di dalamnya, jika dibaca oleh musuh Amerika Serikat, mungkin saja bisa digunakan untuk melukai personel militer dan intelijen Amerika,” kata Goldberg, dalam artikel.

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |