SEOUL, iNews.id - Kepolisian Korea Selatan (Korsel) akan menurunkan kekuatan penuh untuk mengawal sidang putusan pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol pada Jumat (4/4/2025). Yoon dimakzulkan oleh parlemen pada Februari lalu, namun putusan terakhir berada di tangan Mahkamah Konstitusi, apakah akan menerima atau menolak pemakzulan tersebut.
Dia dituduh atas beberapa pelanggaran, di antaranya melakukan pemberontakan terkait penerapan status darurat militer pada 3 Desember 2024. Status itu hanya berlaku sekitar 6 jam sebelum dibatalkan oleh parlemen Majelis Nasional.

Baca Juga
Kocak! Trump Terapkan Tarif di Kepulauan Tak Dihuni Manusia, Hanya Ada Anjing Laut dan Penguin
Untuk mencegah bentrokan antara massa pendukung dan penentang pemakzulan, polisi dikerahkan ke tempat-tempat strategis. Selain itu pemerintah menutup tempat-tempat wisata utama.
Di Seoul saja, polisi mengerahkan lebih dari 14.000 personel antihuru-hara. Puluhan sekolah di sekitar lokasi sidang serta beberapa toko di lingkungan tersebut akan ditutup.

Baca Juga
Militer Korsel Beli 3.000 Kantong Mayat saat Darurat Militer, Begini Penjelasan Kemhan
Tempat wisata utama seperti Istana Gyeongbok dan Changdeok juga akan ditutup.
Kedutaan besar asing juga memperingatkan warganya untuk menjauhi tempat-tempat konsentrasi massa.

Baca Juga
Terungkap, Militer Korsel Beli 3.000 Kantong Mayat saat Presiden Umumkan Darurat Militer
Pengadilan di jantung Kota Seoul menjadi titik api seiring dengan demonstrasi hampir setiap hari. Polisi memutuskan untuk menutup jalan-jalan utama sejak Selasa (1/4/2025) guna mencegah kemungkinan bentrokan.
"Situasinya menjadi lebih serius dari sebelumnya," kata Lee Ho Young, penjabat kepala Badan Kepolisian Nasional, seperti dikutip dari AFP, Kamis (3/4/2025).

Baca Juga
Loyalis Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Bakar Diri hingga Tewas Tolak Pemakzulan
Ratusan ribu orang pendukung dan menentang Yoon turun ke jalan-jalan Seoul setiap akhir pekan. Para pendukung garis keras di kedua belah mendirikan tenda dan melakukan protes sepanjang malam.
Polisi khawatir putusan apa pun yang diumumkan hakim, menolak atau menerima pemakzulan, akan memicu bentrokan.
Para pendukung Yoon menyerbu pengadilan pada Januari setelah seorang hakim memperpanjang penahanan Yoon. Dia kemudian dibebaskan dari tahanan atas dasar prosedural.
"Polisi akan memobilisasi semua sumber daya tersedia untuk memastikan keselamatan masyarakat serta mencegah meningkatnya eskalasi menjadi konflik sosial yang serius," kata Lee.
Kedutaan Besar China di Seoul memperingatkan warganya untuk menjauhi lokasi demonstrasi.
“Jangan berpartisipasi, jangan berlama-lama, jangan menonton,” bunyi pernyataan kedubes.