BONDOWOSO, iNews.id – Ratusan warga Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menggelar ritual adat tahunan Pojhien. Tradisi warisan leluhur yang sudah bertahan lebih dari satu abad ini menyuguhkan atraksi mendebarkan, yakni dua penari yang menari di atas puncak bambu setinggi 12 meter tanpa menggunakan alat pengaman.
Tradisi lisan dan ritual adat ini diyakini telah berlangsung sejak sekitar tahun 1920 dan terus dipelihara sebagai identitas budaya masyarakat setempat.
Baca Juga
Tradisi Syawalan di Jepara, Ribuan Warga hingga Bule dan Kapal Perang Ikut Meriahkan
Atraksi dimulai saat dua penari berjalan menuju dua batang bambu tinggi yang sudah ditancapkan di area ritual. Tanpa canggung, mereka memanjat hingga ke ujung bambu setinggi 12 meter, lalu melakukan gerakan tarian khas dengan hanya mengandalkan bagian perut sebagai tumpuan atau penyangga tubuh.
Meski terbilang sangat ekstrem dan membahayakan keselamatan, para penari diyakini tidak akan terjatuh selama seluruh rangkaian ritual dijalankan sesuai pakem leluhur.
Baca Juga
Unik! Tradisi Tumpengan Warnai Lebaran di Blora, Warga Makan Bersama di Masjid
Berbagai kelengkapan ubarampe wajib disiapkan, mulai dari beras kuning, perlengkapan rokat, hingga hidangan kue serabi berwarna-warni sebagai syarat keselamatan.
"Pojhien ini diselenggarakan sejak dahulu sebagai bentuk rasa syukur, permohonan keselamatan, keberkahan, serta kemakmuran masyarakat. Ritual ini juga difungsikan sebagai penolak bala penyakit hingga permohonan hujan saat kemarau," ujar Tokoh Adat Desa Karanganyar, Tolak, Minggu (2/8/2026).
Dicanangkan Jadi Desa Budaya
Melihat kuatnya komitmen warga dalam menjaga tradisi lisan dan seni pertunjukan ini, Pemerintah Kabupaten Bondowoso secara resmi mencanangkan Desa Karanganyar sebagai Desa Budaya.
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow


















































