Kabupaten Magelang, infojateng.id – Ribuan anggota Lindu Aji memenuhi kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Bukan untuk menunjukkan kekuatan massa, tetapi menggelar parade budaya dengan menampilkan sekitar 1.000 kesenian jatilan, puluhan pelaku UMKM, serta memberikan santunan kepada 550 anak yatim, fakir miskin, dan lansia.
Perhelatan bertajuk “Lindu Aji Culture Fest 2026” itu menjadi momentum bagi organisasi kemasyarakatan (ormas) tersebut, untuk memperluas kiprahnya dari olahraga dan kegiatan organisasi ke bidang seni budaya, sosial, serta ekonomi kreatif.
Ketua Dewan Pembina Lindu Aji, Mayjen (Pur) Fauka Noor Farid, mengatakan, pemilihan kawasan Candi Borobudur bukan tanpa alasan.
Menurutnya, Borobudur memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat serta telah dikenal hingga dunia internasional.
“Dipilihnya objek wisata Candi Borobudur karena mengandung sejarah nenek moyang kita yang dikenal dunia internasional dan kearifan lokal. Candi Borobudur menjadi simbol yang sangat penting dalam melestarikan budaya. Dengan harapan mendapat restu dari para leluhur,” ujar Fauka.
Ia mengatakan, Culture Fest 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya Lindu Aji mendekatkan organisasi dengan masyarakat melalui kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan warga.
Selain parade 1.000 jatilan dan pameran produk UMKM, kegiatan tersebut diisi pemberian santunan kepada 550 anak yatim, fakir miskin, dan lansia.
“Hal ini sesuai dengan tujuan Lindu Aji menjadi organisasi yang peduli dengan masyarakat kecil dan pelestarian budaya,” katanya.
Sekitar 10.000 anggota Lindu Aji disebut turut menghadiri kegiatan tersebut. Fauka menilai keterlibatan ribuan anggota itu tidak semata-mata menunjukkan besarnya organisasi, tetapi juga harus diarahkan untuk kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari Olahraga ke Budaya
Fauka mengatakan, Lindu Aji selama ini dikenal antara lain melalui kegiatan olahraga. Namun, kepengurusan baru ingin memperluas ruang pengabdian organisasi dengan menghidupkan kembali semangat nguri-uri budaya.
Menurut dia, seni dan budaya Nusantara memiliki ruang besar untuk dikembangkan sekaligus menjadi sarana mempertemukan anggota organisasi dengan masyarakat. Karena itu, parade budaya tersebut direncanakan tidak berhenti pada Culture Fest 2026.
“Parade budaya ini akan menjadi program Lindu Aji setiap tahun,” kata Fauka.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi anggota dan masyarakat untuk mengenalkan, merawat, sekaligus mengembangkan kekayaan budaya Nusantara.
Masuknya Fauka dalam jajaran pembina Lindu Aji juga membawa agenda perubahan citra organisasi. Fauka resmi mendapat mandat sebagai Ketua Dewan Pembina Lindu Aji dalam Kongres III DPP Lindu Aji di Semarang pada 13 Agustus 2026.
Pengurus DPP Lindu Aji periode 2026-2031 kemudian dilantik di Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, Minggu (13/9/2026).
Fauka yang memiliki latar belakang sebagai mantan anggota Tim Mawar Kopassus dan kini dikenal sebagai Utusan Khusus Presiden Prabowo Subianto serta Komandan Tim 08, mengatakan, ingin membawa Lindu Aji menjadi organisasi yang lebih kuat dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Ia juga menegaskan belum memiliki rencana membawa Lindu Aji ke ranah politik praktis.
“Saya ingin menunjukkan bahwa ini adalah ormas yang peduli dengan bangsa, tradisi, dan budayanya. Saya ingin merubah stigma ormas ini,” ujar Fauka.
Menurut dia, organisasi masyarakat seharusnya mampu menunjukkan kontribusi nyata di tengah masyarakat, bukan sekadar mengandalkan jumlah anggota atau kekuatan massa.
Fauka juga mengingatkan seluruh anggota Lindu Aji agar tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. Ia meminta anggota mengedepankan musyawarah dan membangun koordinasi dengan aparat keamanan di wilayah masing-masing.
“Saya tekankan kepada seluruh anggota, ormas Lindu Aji mitra TNI-Polri. Menyelesaikan masalah dengan musyawarah, bukan dengan otot,” tegasnya.
Fauka juga meminta jajaran Lindu Aji di berbagai daerah berkoordinasi dengan Kodim dan Polres setempat dalam menjaga ketertiban masyarakat.
“Kita kan punya banyak DPC di seluruh Jateng, jadi tugas kamtibmas-nya diatur dan dikoordinasikan dengan Kodim dan Polres daerah setempat. Tidak boleh menjadi ‘APH’ sendiri dan arogan,” lanjutnya.
Berdiri Sejak 1989
Sebagai informasi, Lindu Aji bermula dari kelompok yang didirikan Ikhwan Ubaidillah pada 1989. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi yayasan sosial sebelum berubah menjadi organisasi kemasyarakatan pada 2015.
Dalam perkembangannya, Lindu Aji mengklaim memiliki sekitar 100.000 anggota yang tersebar di berbagai wilayah, terutama Jawa Tengah.
Basis anggota organisasi tersebut juga banyak berasal dari kalangan pekerja informal, seperti tukang parkir, sekuriti, dan kelompok masyarakat lainnya.
Melalui kepengurusan periode 2026-2031, Lindu Aji ingin memperluas kiprahnya melalui bidang sosial, olahraga, seni, budaya, dan ekonomi kreatif.
Lindu Aji Culture Fest 2026 di Borobudur menjadi salah satu penanda awal arah baru tersebut.
Parade 1.000 jatilan, keterlibatan UMKM, dan pemberian santunan menjadi rangkaian kegiatan yang ingin menunjukkan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya diukur dari jumlah anggotanya, tetapi juga dari seberapa jauh keberadaannya memberi manfaat bagi masyarakat. (eko/redaksi)

11 hours ago
5
















































