Semarang, infojateng.id — Lomba kaligrafi dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Jawa Tengah membawa kembali ingatan pada sejarah 47 tahun lalu.
Pada MTQ XI di Semarang pada 1979, untuk pertama kalinya pameran seni lukis Islami digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan MTQ. Kini, Semarang kembali menjadi tempat perhelatan seni kaligrafi dalam skala internasional.
Direktur Lembaga Kaligrafi Al Quran (Lemka), KH Didin Sirojuddin AR, mengatakan hampir seluruh provinsi mengirimkan delegasi untuk mengikuti lomba kaligrafi. Peserta terbagi dalam lima golongan, yakni naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer, dan digital.
Golongan digital menjadi perkembangan baru. Peserta membuat karya kaligrafi menggunakan perangkat komputer, berbeda dengan teknik konvensional yang menggunakan pena, cat, atau tinta.
“Penilaian kaligrafi mencakup kebenaran kaidah huruf, keindahan huruf, dan keindahan hiasan,” kata Didin, Senin, 14 September 2026.
Menurut dia, keaslian karya menjadi bagian penting dalam lomba kaligrafi MTQ. Karya harus dibuat langsung oleh peserta selama perlombaan. Hal ini berbeda dengan sejumlah kompetisi kaligrafi internasional yang memberi waktu pengerjaan hingga berbulan-bulan.
Karya para peserta nantinya dipamerkan dalam dialog kaligrafi pada 16 September 2026. Pameran tersebut menjadi ruang untuk melihat perkembangan seni kaligrafi sekaligus mengenalkannya kepada masyarakat.
Didin mengatakan sejarah kaligrafi di MTQ memiliki cerita menarik. Pameran seni lukis Islami pada MTQ 1979 mendapat dukungan Joop Ave, yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Pariwisata dan kemudian menjadi Menteri Pariwisata.
“Rupanya karya-karya lukis Islami itu disukai oleh siapa pun, dan memang tidak ada batas-batas,” ujar Didin.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan MTQ Nasional bukan hanya milik umat Islam. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat luas, termasuk kalangan nonmuslim.
Menurut Luthfi, keterlibatan berbagai kalangan menunjukkan semangat toleransi dan nilai rahmatan lil alamin yang ingin ditampilkan Jawa Tengah.
“Musabaqah Tilawatil Qur’an milik semua masyarakat. Inilah bentuk rahmatan lil alamin, toleransi beragama sangat dijunjung sekali, semuanya bersatu,” kata Luthfi.
Ia berharap MTQ Nasional XXXI tidak berhenti sebagai kompetisi. Dari Jawa Tengah, kata dia, MTQ diharapkan membawa pesan perdamaian untuk Indonesia dan dunia. (one/redaksi)

1 day ago
7
















































