JAKARTA, iNews.id - Memasuki tahun ajaran baru, orang tua biasanya sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan sekolah anak, mulai dari seragam, buku hingga perlengkapan belajar. Namun, di balik semangat kembali ke ruang kelas, ada ancaman kesehatan yang juga perlu mendapat perhatian, yakni demam berdarah dengue (DBD).
Risiko penularan DBD tidak hanya terjadi di rumah, tetapi juga di lingkungan sekolah. Anak-anak menghabiskan banyak waktu untuk belajar, bermain, berolahraga, hingga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang membuat peluang terpapar gigitan nyamuk Aedes aegypti semakin besar.
Baca Juga
Fantastis! Beban Ekonomi akibat DBD di Indonesia Nyaris Rp9 Triliun pada 2024
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) periode 2018-2025 menunjukkan kelompok usia 5-14 tahun secara konsisten menjadi kelompok dengan proporsi kematian akibat dengue tertinggi. Pada 2025 bahkan sebanyak 59 persen kematian akibat DBD terjadi pada anak usia 0-14 tahun.
Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qothi, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap DBD hanya muncul saat musim hujan. Padahal, virus dengue dapat mengancam kapan saja.
Baca Juga
Studi UGM: Vaksin DBD Berpotensi Turunkan Kasus Rawat Inap dan Kematian
"DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat," kata dr Ikhsan dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow


















































