Pakar Beberkan Tantangan Biodiesel B50, Ini Dampaknya bagi Mesin Kendaraan

2 weeks ago 5

JAKARTA, iNews.id - Penggunaan biodiesel B50 digadang-gadang menjadi langkah penting dalam mendukung transisi energi rendah emisi di Indonesia. Namun, di balik manfaatnya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi agar tidak berdampak pada kualitas bahan bakar maupun kinerja mesin kendaraan.

Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan mengatakan, biodiesel memiliki karakteristik yang berbeda dengan solar fosil. Perbedaan sifat tersebut menjadi perhatian, terutama ketika kadar biodiesel dalam campuran semakin tinggi seperti pada B50.

Kasus Impor Barang, 3 Eks Pejabat Bea Cukai Didakwa Terima Suap Rp63,5 Miliar

Baca Juga

Kasus Impor Barang, 3 Eks Pejabat Bea Cukai Didakwa Terima Suap Rp63,5 Miliar

Menurutnya, biodiesel tersusun atas ester asam lemak yang membuatnya lebih mudah menyerap air dari lingkungan. Selain itu, biodiesel juga lebih rentan mengalami oksidasi apabila terdapat ikatan rangkap.

"Proses oksidasi berpotensi menghasilkan peroksida, asam organik, dan gum yang dapat menurunkan kualitas bahan bakar. Di sisi lain, kandungan air dapat memicu hidrolisis, korosi, serta pertumbuhan mikroorganisme yang risikonya semakin meningkat pada campuran tinggi seperti B30 hingga B50 apabila pengelolaannya kurang optimal," ujar Dr Leopold dalam keterangan tertulis yang diterima iNews.id, Jumat (3/7/2026).

Sempat Buron, Pelaku Penembakan Tetangga di Lampung Timur Serahkan Diri

Baca Juga

Sempat Buron, Pelaku Penembakan Tetangga di Lampung Timur Serahkan Diri

Dia menjelaskan, penurunan kualitas bahan bakar tersebut bukan semata-mata dipengaruhi komposisi biodiesel. Proses produksi, penyimpanan, distribusi, pencampuran hingga penanganan sebelum digunakan di kendaraan juga menjadi faktor yang menentukan.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |