523 Jiwa Terdampak Tanah Gerak di Brebes Dipastikan Cepat Dapat Penanganan

16 hours ago 6

Brebes, infojateng.id – Sebanyak  175 kepala keluarga atau 532 jiwa terdampak pada bencana tanah gerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes.

Tak pelak, sebagian warga yang terdampak tersebut harus tinggal di pengungsian, sebab pergerakan tanah dilaporkan belum sepenuhnya berhenti.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau langsung lokasi pengungsian sekaligus memimpin Rapat Penanganan dan Penyerahan Bantuan di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al Munawir, Sirampog, Brebes, Rabu (18/2/2026).

Luthfi memastikan percepatan penanganan, termasuk pembangunan hunian sementara (huntara) di lokasi yang telah direkomendasikan aman secara teknis.

“Untuk tanah gerak ini yang bisa dilakukan adalah memindah orang dan barang,” kata Luthfi.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, sedikitnya 143 rumah terdampak, dengan rincian 10 rumah rusak berat, dan 124 rumah lainnya dalam kondisi terancam.

Selain itu, juga ada dua tempat ibadah dan dua fasilitas pendidikan turut terdampak. Akses utama jalan desa sepanjang kurang lebih 700 meter juga ambles.

Kondisi terkini menunjukkan pergerakan tanah masih aktif akibat tingginya curah hujan di wilayah perbukitan Sirampog. Arah longsoran bergerak ke barat daya dengan potensi pergerakan susulan yang masih tinggi.

Dengan situasi seperti ini, Luthfi meminta kepada warga agar tidak kembali ke rumah masing-masing, karena kondisinya masih berbahaya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah telah berkoordinasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Rencananya, huntara akan dibangun di lahan petak 34G milik KPH Perhutani Pekalongan Barat.

Sementara itu, pengungsian dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, Dukuh Limbangan. Dapur umum telah didirikan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).

Pada kesempatan itu, Luthfi juga menyalurkan bantuan total Rp175,97 juta. Bantuan tersebut berasal dari BPBD Provinsi Jateng (Rp18,24 juta), Dinsos Jateng (Rp90,77 juta), Dishanpan (Rp18 juta), Dinas Kesehatan (Rp11,77 juta), Dinas Pendidikan (Rp27 juta), dan PMI (Rp 10,19 juta).

Sementara Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mengapresiasi respons cepat Pemprov Jateng pada penanganan bencana di wilayahnya.

“Terima kasih banyak atas bantuan dan penanganan yang cepat. Bahkan datang bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Masyarakat Brebes tidak perlu khawatir lagi, kita gotong royong, semua sudah disiapkan oleh dinas Provinsi Jawa Tengah,” kata bupati.

Salah seorang warga Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Susi Susanti mengaku, harus mengungsi bersama tiga anaknya, termasuk yang  bayi 10 bulan. Ia memilih mengungsi demi keselamatan anak-anaknya.

Di pengungsian, ia berharap bantuan kebutuhan bayi seperti pampers, sabun, minyak telon, dan perlengkapan mandi tetap tersedia.

Warga lain, Tona, yang rumah kayunya berada di pinggir hutan dan dekat sungai, tak pernah tenang ketika hujan menderas. Sebab garis tepi kali atau sungai semakin dekat ke rumahnya.

“Sekarang lebih parah. Tanahnya cepat sekali bergerak. Kalau malam hujan deras, saya tidak bisa tenang,” kata Susi.

Ia berharap bisa direlokasi ke tempat yang benar-benar aman. “Kalau hunian tetap, saya mau sekali. Supaya bisa hidup tenang,” ujarnya.

Sebagai informasi, bencana tanah gerak di Sirampog Brebes tersebut terjadi pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 18.00 WIB.

Peristiwa ini dipicu cuaca ekstrem yang menyebabkan pergerakan tanah di lereng, dengan kemiringan sekitar 45 derajat mengarah ke aliran Kali Keruh di kawasan perbukitan tinggi Kecamatan Sirampog. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |