Jepara, infojateng.id – Upaya mengangkat kembali martabat Ratu Kalinyamat disebut sebagai proses panjang melawan stigma berabad-abad.
Stigma itu muncul dari label erotik dalam lakon ketoprak hingga narasi konflik pesisir dan pedalaman.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam Forum Sejarah dan Budaya Ratu Kalinyamat bertajuk kepemimpinan perempuan untuk masa depan bangsa yang digelar di Pendopo Kartini Jepara, Rabu (25/2/2026).
Lestari mengatakan perjuangan menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional tidak mudah. Timnya bersama Pemkab Jepara mengusulkan gelar itu sejak 2007.
“Kita sudah berbahagia berhasil memperjuangkan Ratu Kalinyamat mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan nasional. Bukan hal yang mudah,” ujarnya.
Ia menyebut nama Ratu Kalinyamat lama dilekatkan dengan citra negatif. Salah satunya melalui judul lakon ketoprak yang populer di pantai utara Jawa.
Menurut dia, ketika tim mencari referensi akademik, yang muncul justru kajian tentang erotisme. Sosoknya kerap digambarkan mistis dan tidak rasional.
Lestari menilai narasi itu tidak lepas dari dinamika politik masa lalu. Termasuk perpindahan pusat kekuasaan dari pesisir ke pedalaman. Ia juga menyinggung praktik politik pecah belah pada masa kolonial.
Dalam proses pengusulan gelar, tim peneliti diminta membuktikan bahwa Ratu Kalinyamat bukan mitos. Tantangan utamanya adalah ketiadaan bukti primer.
Tim kemudian menjalin kerja sama akademik. Mereka menemukan delapan sumber primer di University of Porto, Portugal.
Dokumen itu berupa laporan misionaris kepada raja Portugis pada abad ke-16.
Catatan tersebut menyebut armada Ratu Kalinyamat mencapai sekitar 300 kapal. Prajuritnya disebut berjumlah sekitar 15.000 orang. Ia juga memimpin empat ekspedisi ke Malaka pada 1551 hingga 1568.
“Buktikan bahwa Ratu Kalinyamat itu bukan dongeng. Bukan mitos,” kata Lestari mengutip tantangan dari para sejarawan.
Selain memimpin perlawanan bersenjata, ia dinilai mampu membangun aliansi dari Aceh hingga Hitu. Pada masanya, Jepara berkembang sebagai bandar dagang penting.
Jejak akulturasi juga terlihat di Masjid Mantingan. Bangunan itu memadukan unsur Islam, Hindu, dan Tiongkok. Ia menilai kepemimpinan perempuan mampu melahirkan peradaban.
Forum tersebut turut dihadiri Bupati Jepara Witiarso Utomo, dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Manggar Sari Ayuati.
Bupati Jepara menyatakan forum ini menjadi ruang refleksi. Ia mengaku meneladani keberanian dan integritas Ratu Kalinyamat dalam memimpin.
“Kalau sekarang ini saya tidak ada yang dilawan karena penjajah tidak ada. Yang menjadi pertanyaan buat diri saya sendiri, apakah saya juga berani seperti beliau melawan diri saya sendiri untuk bisa mensejahterakan masyarakat Jepara,” ujarnya.
Manggar Sari Ayuati, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X menyatakan dukungan terhadap penguatan kajian sejarah. Termasuk pelestarian warisan budaya di Jepara.
Forum ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi mendorong peran perempuan dalam pengambilan keputusan. (eko/redaksi)

5 hours ago
2

















































