Mitigasi Longsor Diperkuat, KKN UNDIP Petakan Kawasan Rawan di Sodong

23 hours ago 5

Batang, infojateng.id – Retakan tanah yang muncul saat musim kemarau membuat warga Dukuh Silegok, Desa Sodong, Kabupaten Batang, meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi longsor ketika hujan kembali turun.

Kondisi tersebut mendorong warga bersama mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) memperkuat upaya mitigasi bencana. Salah satu langkah yang dilakukan yakni memetakan kawasan rawan longsor sebagai dasar menentukan lokasi reboisasi.

Diskusi antara warga dan mahasiswa KKN UNDIP berlangsung pada Senin (3/8/2026) lalu. Dalam pertemuan itu, warga berbagi pengalaman menghadapi potensi longsor, sementara mahasiswa menawarkan pendekatan berbasis data untuk memperkuat mitigasi.

Kepala Dusun Silegok Muhalal mengatakan, kegiatan mitigasi telah berjalan sejak 2018 bersama masyarakat dan sejumlah pemangku kepentingan. Edukasi kebencanaan serta penanaman pohon dilakukan secara bertahap agar lereng tetap terjaga sekaligus memperkuat kawasan resapan air.

Upaya itu dilakukan melalui edukasi kebencanaan dan penanaman pohon secara bertahap untuk menjaga kestabilan lereng sekaligus memperkuat kawasan resapan air.

“Mitigasi ini bukan kegiatan yang baru kami lakukan. Sejak 2018 masyarakat bersama berbagai pihak terus berupaya menjaga kawasan perbukitan melalui edukasi dan penanaman pohon. Tahun ini kami mendapat tambahan ilmu melalui pemetaan kawasan rawan longsor dari adik-adik KKN UNDIP,” kata Muhalal di Desa Sodong, Rabu (5/8/2026).

Sejumlah tanaman seperti aren, makadamia, dan pucung kini mulai tumbuh di sejumlah lereng. Bagi warga, pohon-pohon itu bukan hanya penghijauan.

Akarnya diharapkan membantu menjaga kestabilan tanah, sementara kawasan resapan yang terbentuk menjadi penyangga ketersediaan air ketika kemarau datang. Tahun ini, KKN Reguler Tim II UNDIP menambahkan pendekatan berbasis data.

Mahasiswa Teknik Geologi Universitas Diponegoro Fadhli Haula, menyusun peta kelerengan dan kawasan rawan longsor berdasarkan kondisi topografi wilayah. Peta tersebut akan menjadi acuan dalam menentukan lokasi yang diprioritaskan untuk reboisasi dan kegiatan mitigasi lainnya.

“Peta ini kami susun agar kegiatan mitigasi tidak hanya berdasarkan pengamatan di lapangan, tetapi juga didukung data mulai dari data curah hujan, tutupan lahan dan jenis tanah. Dengan begitu, lokasi yang diprioritaskan benar-benar sesuai dengan tingkat kerawanannya,” ujar Fadhli.

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Ni Putu Elsa Sukraseni, mengajak warga melihat mitigasi dari sisi yang berbeda.

Menurutnya, upaya menjaga kawasan rawan longsor memerlukan dukungan aturan di tingkat desa agar kesepakatan yang dibangun bersama tidak berhenti ketika program KKN selesai.

“Perdes dapat menjadi pijakan bersama dalam menjaga kawasan rawan longsor. Ketika aturan disepakati, masyarakat memiliki pedoman yang sama dan pemerintah desa mempunyai dasar dalam mengawal pelaksanaannya kelestarian lingkungan sehingga Penegakan Lingkungan dapat dijalankan sesuai aturan yang telah disepakati,” ujar Ni Putu.

Di penghujung diskusi, percakapan kembali mengarah pada hal yang paling sederhana: kepedulian terhadap lingkungan. Warga sepakat, mitigasi tidak hanya soal menanam pohon atau menyusun peta, tetapi juga menjaga kebiasaan agar lereng tetap lestari.

Bagi mereka, itulah cara paling masuk akal untuk merawat ruang hidup yang selama bertahun-tahun menjadi rumah sekaligus sumber penghidupan. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |