Jepara, infojateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana dengan meningkatkan upaya mitigasi dan kapasitas penanganan di lapangan.
Langkah tersebut dilakukan menyusul prediksi potensi kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026.
Penguatan mitigasi bencana itu mengemuka dalam Sosialisasi Dasar Manajemen Penanggulangan Bencana yang digelar di Pendopo R.A. Kartini Jepara, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Wakil Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Abdul Wachid dan Bupati Jepara Witiarso Utomo.
Abdul Wachid mengatakan, Kabupaten Jepara masuk kategori daerah dengan tingkat kerawanan bencana sedang. Namun, sejumlah wilayah memiliki potensi ancaman bencana yang perlu diantisipasi sejak dini.
Beberapa di antaranya kawasan lereng Gunung Muria dan wilayah pertanian di Kecamatan Mayong yang rawan terdampak banjir.
“Jepara kategori sedang untuk bencana. Daerah rawan seperti di lereng Gunung Muria. Banyak daerah pertanian juga rawan banjir, seperti Mayong,” ujar Abdul Wachid.
Dia mengatakan, potensi kemarau panjang hingga Desember perlu diantisipasi dengan langkah mitigasi yang lebih matang.
Menurutnya, kesiapsiagaan harus dilakukan sebelum bencana terjadi agar pemerintah dan masyarakat tidak kewalahan ketika menghadapi kondisi darurat.
“Badan Meteorologi memperkirakan kemarau panjang sampai bulan Desember. Hari ini mulai kita siap-siap mitigasi daerah bencana. Mudah-mudahan tidak terjadi, tetapi semua harus dipersiapkan supaya tidak kaget ketika bencana datang,” katanya.
Untuk memperkuat kapasitas penanganan bencana di Jepara, Abdul Wachid juga menyampaikan dukungan berupa kendaraan operasional. Bantuan tersebut berupa satu unit mobil rescue dan 20 sepeda motor yang saat ini masih dalam proses.
“Jepara sangat membutuhkan mobil rescue. Kita akan bantu mobilnya, saat ini masih dalam proses. Selain itu, ada 20 sepeda motor yang siap kita bagikan sehingga bisa memperlancar bantuan kepada masyarakat terdampak bencana,” ungkapnya.
Menurut dia, keberadaan kendaraan operasional tersebut diharapkan dapat mempercepat mobilitas petugas, distribusi bantuan, serta respons terhadap masyarakat ketika terjadi bencana, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan berukuran besar.
Sementara itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan, kondisi geografis Jepara yang beragam menjadi tantangan tersendiri dalam penanggulangan bencana.
Wilayah Jepara mencakup kawasan pegunungan, dataran rendah, pesisir hingga Kepulauan Karimunjawa. Kondisi tersebut menjadi potensi bagi pembangunan, tetapi sekaligus menghadirkan berbagai risiko bencana.
“Keanekaragaman bentang alam tersebut menjadi potensi besar bagi pembangunan, tetapi sekaligus menghadirkan berbagai ancaman bencana yang harus kita kelola dengan baik,” kata Witiarso.
Menurut dia, penanggulangan bencana tidak boleh hanya berfokus pada respons setelah bencana terjadi. Mitigasi dan kesiapsiagaan harus dibangun menjadi budaya bersama.
Witiarso menekankan pentingnya edukasi masyarakat, penataan ruang yang bijaksana, serta peningkatan kesiapsiagaan sejak dini untuk menekan risiko dan dampak bencana.
“Penanggulangan bencana harus menjadi budaya bersama. Keberhasilan kita tidak hanya diukur dari kemampuan saat merespons bencana, tetapi juga dari kesungguhan membangun mitigasi, memperkuat edukasi masyarakat, menata ruang secara bijaksana, serta meningkatkan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi,” tegasnya.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, Pemkab Jepara berharap pemahaman masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai manajemen penanggulangan bencana semakin meningkat. (eko/redaksi)

1 day ago
8

















































