Temanggung, infojateng.id – Ada yang berbeda dalam transaksi jual beli di Festival Lembutan Bansari VII. Pengunjung tidak akan menggunakan uang tunai maupun dompet digital untuk berbelanja selama festival yang digelar di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, 8–10 Agustus 2026.
Sebagai gantinya, pengunjung akan menggunakan kepingan koin kayu sebagai alat transaksi. Inovasi tersebut menjadi salah satu daya tarik utama festival yang memadukan pelestarian tradisi tembakau lembutan dengan kampanye ekonomi hijau.
Ketua Panitia Festival Lembutan Bansari VII, Yoga Listiawan, mengatakan pengunjung harus menukarkan rupiah dengan koin kayu di stan resmi yang tersedia di pintu masuk.
Koin kayu tersebut memiliki tiga nominal, yakni setara Rp2.000, Rp5.000, dan Rp20.000.
“Langkah anti mainstream ini sengaja dipilih untuk menghidupkan kembali atmosfer pasar tradisional zaman dulu yang guyub dan interaktif. Selain itu, ini adalah komitmen nyata kami menjaga kelestarian alam,” kata Yoga, Selasa (28/7/2026).
Konsep ramah lingkungan juga diterapkan di area Pasar Jajan Desa dan UMKM. Kuliner tradisional dari 13 desa di Kecamatan Bansari diwajibkan menggunakan kemasan berbahan alami, seperti daun pisang.
Para penjaga stan juga akan mengenakan busana adat Jawa sehingga suasana festival dibuat menyerupai kehidupan pasar tradisional masa lalu.
Camat Bansari sekaligus Penanggung Jawab Festival, Ika Utami Widjayanti, mengatakan Festival Lembutan Bansari VII mengusung tema “Udaya Sata Samriddhi”, yang dimaknai sebagai mengembalikan kemakmuran tembakau.
Menurut dia, festival tersebut menjadi ruang untuk menjaga tradisi tembakau lembutan yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Bansari.
Sejumlah prosesi budaya akan digelar, antara lain jamasan cacak, yakni pembersihan alat rajang tembakau tradisional, serta nganjang, berupa penataan rajangan tembakau secara massal.
“Tembakau lembutan bukan sekadar komoditas, tapi urat nadi kebahagiaan dan ekonomi warga kami. Lewat festival yang dikemas santai dan interaktif ini, kami ingin merangkul generasi muda dan wisatawan untuk ikut melestarikan warisan tradisi leluhur, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif desa,” ujar Ika.
Bupati Temanggung Agus Setyawan mengapresiasi konsep Festival Lembutan Bansari VII yang menggabungkan budaya, ekonomi kreatif, dan kepedulian lingkungan.
Menurut Agus, penggunaan koin kayu sebagai alat transaksi serta larangan penggunaan kemasan plastik menjadi inovasi yang memperkuat karakter festival.
“Menonton prosesi nganjang, mencicipi jajanan yang dibungkus daun, dan memegang koin kayu bukan sekadar aktivitas belanja biasa, melainkan sebuah diplomasi budaya yang mendalam,” kata Agus.
Dia menilai festival tersebut tidak hanya menjadi perayaan hasil panen tembakau, tetapi juga ruang untuk merawat tradisi sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di lereng Gunung Sindoro.
Festival Lembutan Bansari VII akan berlangsung selama tiga hari dengan berbagai kegiatan budaya, seni, dan hiburan.
Pengunjung dapat menyaksikan ritual adat, kirab budaya, jamasan tembakau, pentas seni tradisional, lomba ngrajang dan nganjang, hingga lomba nglinting tembakau.
Selain itu, tersedia turnamen esports dan konser penutup yang menghadirkan grup musik Aftershine.
Festival juga menghadirkan Pasar Tembakau Lembutan yang memamerkan produk unggulan dari 13 desa di Kecamatan Bansari.
Ada pula Pasar Jajan Desa dan UMKM yang menawarkan beragam kuliner tradisional dengan kemasan ramah lingkungan, serta Pasar Kopi yang menyajikan kopi khas Temanggung. (eko/redaksi)

1 day ago
9

















































