“Jawa Tengah ora nduwe gubernur?” Sindiran itu mungkin benar, jika yang dimaksud adalah gubernur model one man show. Jawa Tengah tidak dipimpin oleh “superman”, melainkan oleh seorang orkestrator yang membangun super team.
Filosofinya sederhana: kolaborasi. Seperti ajaran Ki Hajar Dewantara, Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Memimpin dengan teladan, menggerakkan di tengah, dan memberi dorongan dari belakang. Semangatnya gotong royong—holopis kuntul baris—sebagaimana ditegaskan Soekarno: kerja bersama untuk kebahagiaan bersama.
Kolaborasi Jadi Fondasi
Hanya 25 hari setelah pelantikan, gubernur langsung menandatangani kerja sama dengan 44 perguruan tinggi untuk mendukung program strategis daerah. Hasilnya mulai terlihat: desalinasi air payau siap minum, verifikasi rumah tidak layak huni, penanganan stunting dan TBC.
Kerja sama juga diperluas lintas provinsi—Jawa Timur, Lampung, Riau, Maluku Utara—serta 15 negara mitra. Dampaknya mulai terasa pada investasi dan peningkatan kualitas SDM.
Prinsipnya jelas: ini era kolaborasi, bukan sekadar kompetisi.
Capaian Utama Setahun
Berbagai indikator menunjukkan tren positif, meski pekerjaan rumah masih banyak:
- Kemiskinan turun menjadi 9,39% (sekitar 3,3 juta jiwa masih perlu perhatian).
- Pertumbuhan ekonomi 5,37%, di atas rata-rata nasional.
- Investasi melampaui target: Rp88,5 triliun (target Rp78,3 triliun), menyerap 418.138 tenaga kerja.
- Inflasi 2025 terkendali di angka 2,72%.
- Produksi padi mencapai 1,2 juta ton, melebihi target.
- Rumah layak huni naik menjadi 77,19%.
- Jalan provinsi kondisi baik mencapai 89,94%.
Program nasional juga berjalan optimal: 8.556 koperasi Merah Putih terbentuk (terbanyak nasional) dan 14,2 juta warga mengikuti cek kesehatan gratis.
Tantangan Besar
Tahun 2025 mencatat 368 bencana, dengan banjir sebagai yang terbesar. Sebanyak 169.557 rumah rusak dan 90 korban jiwa tercatat. Respons dilakukan melalui normalisasi sungai, penguatan tanggul, pompa air, hingga modifikasi cuaca di berbagai daerah seperti Kendal, Demak, dan Grobogan.
Abrasi pesisir ditangani lewat program mageri segoro dengan penanaman lebih dari 1 juta mangrove. Masalah sampah (6 juta ton per tahun) juga mulai ditangani melalui satgas dan proyek TPA regional, meski belum sepenuhnya optimal.
Indeks integritas ASN masih perlu ditingkatkan (75,3 dari target 80,9), dan pengangguran masih di atas target.
Bergerak Bersama
Forum komunikasi rutin dengan DPR RI, DPRD, Forkopimda, hingga bupati/wali kota terus diperkuat. Pengusaha, Baznas, ormas, hingga perguruan tinggi dirangkul dalam satu visi pembangunan.
Membangun Jawa Tengah tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Karena itu, berbagai usulan strategis telah diajukan ke pemerintah pusat, mulai infrastruktur air minum, pengendalian banjir, hingga penguatan kawasan konservasi seperti Gunung Slamet dan Muria.
Setahun ini mungkin belum panen raya. Namun benih sudah ditanam, bunga mulai mekar.
Masih banyak persoalan yang harus diselesaikan. Karena itu, semangatnya tetap sama: cancut taliwondo, holopis kuntul baris—bergerak bersama, dari semua untuk semua. (*/redaksi)
Oleh: Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah

17 hours ago
10

















































