Blora, Infojateng.id – Situs Budaya Ngloram di Kecamatan Cepu, Blora dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi episentrum kebudayaan publik yang aktif, inklusif, dan berkelanjutan. Tak sekadar menjadi penanda sejarah, kawasan yang dalam sejumlah sumber lokal dikenal sebagai Lwaram itu didorong menjadi ruang hidup yang menghadirkan interaksi sosial, ekspresi seni, serta edukasi sejarah bagi masyarakat.
Di tengah pesatnya perkembangan wilayah Cepu sebagai kawasan strategis perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Ngloram masih menyimpan jejak panjang perjalanan peradaban lokal. Kawasan ini diyakini pernah menjadi ruang perjumpaan berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari budaya, ekonomi, hingga spiritualitas yang membentuk karakter sosial masyarakat setempat.
Penggiat intelegensia spasial Blora, Ahmad Rouf, menilai keberadaan situs budaya tidak boleh berhenti sebagai artefak yang hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu.
“Ruang budaya tidak semestinya menjadi artefak diam atau sekadar penanda sejarah. Ruang budaya harus terus dihidupkan agar tetap memiliki makna dan relevansi bagi generasi masa kini,” ujarnya.
Menurut Rouf, aktivasi ruang budaya bukan berarti menghilangkan identitas lama dan menggantinya dengan sesuatu yang sepenuhnya modern. Sebaliknya, upaya tersebut merupakan cara untuk menghadirkan kembali nilai-nilai, semangat, dan memori kolektif yang telah lama hidup di kawasan itu dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Berbagai aktivitas dinilai dapat menjadi langkah strategis untuk menghidupkan kembali denyut kebudayaan di Ngloram. Mulai dari festival budaya lokal, pertunjukan seni tradisi, pameran sejarah Cepu, pasar kreatif masyarakat, hingga ruang diskusi dan edukasi sejarah yang melibatkan generasi muda.
Salah satu bentuk aktivasi yang telah berjalan adalah Festival Nglaras Jagat, yang pada tahun 2026 memasuki penyelenggaraan ke-5 dan mulai menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi budaya masyarakat.
“Melalui berbagai aktivitas tersebut, situs budaya tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kebudayaan baru yang lahir dari masyarakat itu sendiri,” katanya.
Lebih jauh, keberadaan Ngloram dipandang memiliki peluang besar untuk memperkuat identitas budaya Cepu. Keterikatan emosional masyarakat terhadap suatu ruang, memori kolektif yang diwariskan lintas generasi, serta rasa memiliki terhadap sejarah lokal menjadi fondasi penting dalam membangun identitas kawasan.
Selama ini, nama Cepu lebih dikenal sebagai kota minyak yang memiliki peran penting dalam sejarah industri energi nasional. Namun di balik identitas tersebut, tersimpan kekayaan narasi budaya yang belum banyak diangkat ke ruang publik.
“Ngloram dapat menjadi pintu masuk untuk membaca Cepu dari sisi yang lebih humanis. Bukan hanya tentang industri dan ekonomi, tetapi juga tentang ingatan kolektif, tradisi lokal, serta hubungan masyarakat dengan ruang hidupnya,” jelas Rouf.
Ia menegaskan bahwa pelestarian situs budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga bangunan atau kawasan fisik semata. Yang tak kalah penting adalah menjaga cerita, nilai-nilai, dan hubungan sosial yang tumbuh bersama ruang tersebut.
“Ketika ruang budaya kehilangan aktivitasnya, perlahan identitas kolektif masyarakat juga akan memudar. Karena itu, menjaga situs budaya berarti menjaga memori, jati diri, dan keberlanjutan kebudayaan masyarakat,” tegasnya.
Di tengah arus pembangunan dan modernisasi yang terus bergerak cepat, Situs Budaya Ngloram memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai ruang kebudayaan publik yang hidup dan produktif. Bukan hanya sebagai saksi masa lalu, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan sejarah, kehidupan masa kini, dan masa depan kebudayaan lokal Cepu. (san/redaksi)

5 hours ago
1

















































