JAKARTA, iNews.id - Pernyataan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie soal bahaya abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian. Stella menyebut abu vulkanik memiliki partikel sangat halus dan dapat mengandung silika yang berpotensi mengganggu kesehatan, termasuk meningkatkan risiko kanker.
Lantas, benarkah abu vulkanik bisa menyebabkan kanker?
Baca Juga
Pencarian 5 Jurnalis Hilang kontak, Tim SAR Kejar Harapan di Tengah Abu Vulkanik Anak Krakatau
Jawabannya tidak sesederhana itu. Abu vulkanik tidak otomatis menyebabkan kanker hanya karena seseorang menghirupnya. Namun, kekhawatiran tersebut memiliki dasar ilmiah karena beberapa jenis abu vulkanik dapat mengandung silika kristalin yang dapat terhirup (respirable crystalline silica).
Silika jenis tersebut memang telah diketahui dapat meningkatkan risiko kanker paru, terutama pada paparan yang tinggi dan berlangsung dalam jangka panjang.
Baca Juga
Bandara Wunopito Ditutup hingga 10 September Imbas Abu Vulkanik Gunung Lewotolok
Abu Vulkanik Mengandung Silika
Stella sebelumnya menjelaskan bahwa partikel abu vulkanik berukuran sangat halus, sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan.
"Kalau kita lihat secara scientific, apa sih bahayanya (abu vulkanik)? Volcanic ash atau debu vulkanik ini kan lebih halus daripada bedak bayi. Dan di dalam situ ada silika, dan silika inilah yang bisa masuk ke dalam bulu pembuluh darah dan menyebabkan penyakit dan juga termasuk ada kemungkinan kanker," ujar Stella di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

















































