Sragen, infojateng.id – Berawal dari membawa pentol buatan sang ibu ke sekolah untuk dibagikan kepada teman-temannya, Nur Afidaah, 25, warga Dukuh Sokarejo, Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Sragen, kini berhasil mengembangkan usaha kuliner dengan berbagai pola penjualan.
Usaha yang dikenal dengan nama Afidaah Pentol itu dirintis sejak Afidaah duduk di kelas X SMK. Saat itu, ia membawa satu baskom pentol ke sekolah. Tak disangka, teman-temannya menyukai makanan tersebut dan mulai memesan.
“Awal mulanya saya sudah merintis sejak SMK kelas 10. Ibu saya memang sudah jualan sejak saya kecil. Waktu itu saya ingin membawa pentol ke sekolah untuk dibagi ke teman-teman. Saya bawa satu baskom, ternyata mereka suka dan akhirnya pesan,” ujar Afidaah, Jumat (18/9/2026).
Setelah lulus SMK dan sempat bekerja, Afidaah kembali berjualan karena banyak teman yang mengaku rindu dengan pentol buatannya. Pada 2018, ia mulai serius memasarkan produk melalui Instagram, Facebook, dan TikTok.
Dari media sosial, pelanggan baru mulai berdatangan hingga produknya semakin dikenal.
“Sebenarnya awalnya iseng, tidak sengaja. Setelah saya upload di Instagram, TikTok, dan Facebook, orang-orang mulai mengenal saya jualan pentol. Akhirnya menjadi pentol viral,” katanya.
Dari COD hingga OTR
Model penjualan Afidaah terus berkembang. Pada akhir 2022, ia mulai menerapkan sistem cash on delivery (COD). Setelah itu muncul pelanggan yang menawarkan sistem jasa titip (jastip), hingga kemudian ada permintaan untuk berjualan secara on the road (OTR).
Dalam sistem OTR, Afidaah berpindah-pindah lokasi berjualan dan menginformasikan keberadaannya melalui media sosial.
“Awalnya 2022 akhir saya COD. Kemudian ada yang menawarkan untuk jastip. Setelah itu ada yang bertanya apakah boleh OTR. Akhirnya berkembang dari COD, jastip, sampai OTR,” jelasnya.
Saat ini Afidaah memilih menjalankan OTR sendiri dan belum membuka kembali layanan jastip maupun OTR yang dikelola pihak lain.
Menurut dia, sistem OTR memberikan hasil cukup baik dengan waktu berjualan relatif singkat. Dalam kondisi tertentu, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp4 juta sehari, dengan keuntungan sekitar separuh dari omzet.
Untuk produksi, Afidaah menggunakan sekitar 15 kilogram tepung per hari, menyesuaikan jumlah pesanan.
Saus Jadi Ciri Khas
Di tengah banyaknya penjual pentol, Afidaah mengandalkan racikan saus sebagai salah satu pembeda. Pentol dibuat dari bahan gandum dan tepung kanji, sementara sausnya diracik dari cabai, rempah-rempah, dan daun jeruk.
“Yang menjadi ciri khas pentol kita sebenarnya terletak di sausnya. Sausnya full cabai, rempah-rempah dan daun jeruk. Tidak ada tambahan kacang dan merica. Ciri khasnya ada di daun jeruknya,” ujarnya.
Promosi kini lebih banyak dilakukan melalui TikTok. Selain mengenalkan produk, media sosial dimanfaatkan untuk memberi tahu lokasi OTR sehingga pelanggan dapat mengetahui tempat Afidaah berjualan.
Kembangkan Frozen Food hingga Dikirim ke Luar Daerah
Afidaah juga mengembangkan produk frozen food untuk memenuhi permintaan pelanggan di luar Sragen yang ingin tetap menikmati pentol buatannya.
Ia melakukan sejumlah percobaan pengemasan dan pengiriman hingga menemukan metode yang dinilai aman. Pentol frozen dikemas menggunakan plastik vakum, sedangkan saus menggunakan plastik aluminium foil.
Kini, pesanan frozen food datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, Kalimantan hingga Papua. Bahkan, ada pelanggan yang membawanya sampai ke Jepang.
“Frozen food ini berawal dari permintaan pelanggan. Kami trial berkali-kali sampai menemukan cara agar aman sampai tujuan. Alhamdulillah sekarang sudah bisa. Ada yang pesan dari luar Sragen, Pulau Jawa, Kalimantan, Papua, bahkan ada yang sampai Jepang, tetapi mereka sendiri yang mengirim,” ungkapnya.
Afidaah menawarkan paket hemat isi 25 seharga sekitar Rp29.500 dan paket puas isi 35 sekitar Rp39.900. Berat masing-masing paket sekitar 600 gram dan 800 gram.
Pesanan frozen food dilayani melalui TikTok Shop dan Shopee. Saat ramai, pengiriman pernah mencapai sekitar 70 porsi sehari. Namun, produksinya kini disesuaikan karena Afidaah juga fokus menjalankan OTR.
Tetap Berbasis Keluarga
Dalam menjalankan usaha, Afidaah masih mengandalkan bantuan keluarga. Produksi hingga aktivitas penjualan dilakukan bersama keluarga di rumah.
Ia belum berencana membuka kios tetap dan masih fokus mengembangkan konsep OTR dengan berpindah-pindah lokasi untuk menjangkau pelanggan di berbagai daerah.
“Untuk target sekarang masih mengembangkan OTR. Pelanggan tentunya tidak akan bosan karena kami berpindah-pindah, mengikuti daerah satu kemudian daerah lainnya,” tuturnya.
Bagi Afidaah, perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Namun, ia memilih tetap konsisten dan menjadikan usaha tersebut sebagai sarana membantu orang tua.
“Yang penting niat dan tujuannya berbakti kepada orang tua, membantu. Apa yang kita usahakan harus konsisten dan tetap semangat. Kalau ada kegagalan jangan menyerah, tetap dijalani sampai di titik yang kita impikan,” pungkasnya. (eko/redaksi)

1 day ago
10
















































