BPBD Batang Terus Edukasi Warga Pranten, Ini Tujuannya

3 days ago 11

Batang, infojateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang terus memperkuat upaya mitigasi bencana tanah longsor di wilayah rawan, salah satunya di Desa Pranten, Kecamatan Bawang.

Edukasi kepada masyarakat menjadi langkah utama untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat musim hujan.

Kepala Pelaksana BPBD Batang Wawan Nurdiansyah mengatakan, bahwa wilayah pegunungan seperti Pranten memiliki potensi bencana yang cukup tinggi, sehingga masyarakat perlu dibekali pemahaman agar mampu hidup berdampingan dengan ancaman bencana.

“Relokasi memang menjadi solusi paling ideal bagi warga yang tinggal di zona rawan longsor. Namun, dalam praktiknya tidak mudah karena ada keterikatan dengan tanah kelahiran dan sumber penghidupan,” kata Wawan saat ditemui di Kantor BPBD Batang, Selasa (13/1/2026).

Sebagai alternatif, BPBD mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda alam, seperti munculnya retakan tanah atau perubahan kondisi lingkungan.

Edukasi ini terus dilakukan agar warga dapat mengambil langkah cepat sebelum bencana terjadi.

Wawan menyebut, di Dukuh Rejosari, Desa Pranten, terdapat sekitar delapan kepala keluarga (KK) yang secara mandiri memilih mengungsi ke rumah kerabat saat puncak musim hujan.

Mereka akan kembali ke rumah masing-masing ketika kondisi dinilai lebih aman pada musim kemarau.

“Ini bentuk kesadaran masyarakat yang patut diapresiasi. Mereka sudah memahami risiko dan tahu kapan harus mengungsi,” jelasnya.

Selain edukasi, BPBD Kabupaten Batang juga mendorong pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di setiap desa sebagai upaya meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Destana dilengkapi dengan berbagai dokumen dan perangkat pendukung, mulai dari relawan tingkat desa, peta kerawanan bencana, data warga yang tinggal di zona rawan, hingga penentuan titik kumpul dan jalur evakuasi,” terangnya.

Saat ini, dari total 248 desa dan kelurahan di Kabupaten Batang, baru sekitar 90 hingga 100 desa atau sekitar 40 persen yang telah membentuk Destana.

“Pembentukan Destana tersebut didorong menggunakan anggaran mandiri dari Dana Desa, dengan koordinasi lintas instansi, termasuk Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades),” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, BPBD Batang juga menyalurkan bantuan logistik untuk melengkapi posko Destana di Desa Pranten.

Bantuan tersebut berupa dua matras, dua terpal, dan dua velbed (tempat tidur lipat).

Selain itu, BPBD juga mengaktifkan dan mengatur ulang frekuensi handy talky (HT) sebagai sarana komunikasi darurat, mengingat keterbatasan sinyal telepon seluler di wilayah tersebut.

“Komunikasi menjadi sangat penting saat kondisi darurat. HT ini menjadi andalan karena sinyal provider di sana sangat terbatas,” pungkasnya. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |