Bukan Sekadar Ritual, Nyadran Alas Pandawa Jadi Ruang Warga Perkuat Gotong Royong

1 day ago 10

Batang, infojateng.id – Semangat gotong royong dan kebersamaan kembali terlihat dalam tradisi Nyadran Alas Pandawa yang digelar masyarakat Desa Kreyo, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan komunikasi antarwarga.

Kepala Desa Kreyo Suryoto mengatakan, Nyadran Alas Pandawa bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persatuan masyarakat sekaligus mengenalkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

“Melalui Nyadran Alas Pandawa, kami ingin mengajarkan pentingnya menjaga kebersamaan, menghormati warisan leluhur, serta melestarikan budaya lokal agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” kata Suryoto di Desa Kreyo, Kamis (23/7/2026).

Selain menjadi tradisi budaya, Nyadran Alas Pandawa juga memiliki cerita yang dipercaya masyarakat setempat dan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Suryoto menuturkan, berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Alas Pandawa berkaitan dengan kisah seorang putri raja yang dahulu bersembunyi di kawasan hutan bersama para pengawalnya untuk menghindari kejaran tentara Belanda.

Putri tersebut disebut melakukan pertapaan dan berdoa sepanjang malam hingga akhirnya pasukan Belanda meninggalkan kawasan tersebut. Dalam cerita masyarakat, kawasan hutan itu kemudian dikenal dengan nama Alas Siji yang dikaitkan dengan asal-usul nama Wonotunggal.

“Cerita ini terus diwariskan oleh masyarakat secara turun-temurun. Tentu ini menjadi bagian dari kekayaan budaya dan cerita rakyat yang hidup di Desa Kreyo,” ujarnya.

Menurut Suryoto, Nyadran Alas Pandawa juga menjadi sarana warga untuk berkumpul dan berkomunikasi. Selain doa bersama sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi dan keselamatan masyarakat, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membicarakan berbagai persoalan desa.

Dalam suasana kekeluargaan, warga dapat berdiskusi mengenai lingkungan, pembangunan, hingga berbagai kebutuhan masyarakat. Komunikasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat sinergi dalam membangun Desa Kreyo.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang Bambang Suryantoro Soedibyo mengapresiasi masyarakat Desa Kreyo yang konsisten menjaga tradisi budaya sebagai bagian dari identitas daerah.

Menurut Bambang, tradisi seperti Nyadran Alas Pandawa memiliki nilai sosial yang penting bagi kehidupan masyarakat.

“Tradisi seperti Nyadran Alas Pandawa memiliki nilai sosial yang sangat tinggi. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini memperkuat semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan kebersamaan yang menjadi modal utama dalam pembangunan desa,” katanya.

Masyarakat berharap Nyadran Alas Pandawa dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Generasi muda juga didorong untuk terlibat aktif dalam pelestarian tradisi tersebut agar nilai budaya, semangat kebersamaan, serta kepedulian terhadap lingkungan tetap terjaga.

Nyadran Alas Pandawa menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya menjadi warisan masa lalu. Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut tetap memiliki fungsi sosial sebagai ruang bertemu, memperkuat komunikasi, menjaga gotong royong, dan mempererat hubungan antarwarga.

Nilai-nilai tersebut diharapkan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kreyo sekaligus mendukung pembangunan Kabupaten Batang yang berbudaya dan berdaya saing. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |