Desa Tombo Andalkan Kopi Lokal untuk Kembangkan Wisata Berkelanjutan

14 hours ago 2

Batang, infojateng.id – Pemerintah Desa (Pemdes) Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, terus mengembangkan potensi wisata berbasis alam dengan tetap mengedepankan kelestarian lingkungan.

Desa yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi di Batang itu memilih mengembangkan pariwisata secara bertahap agar manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan ekosistem.

Kepala Desa Tombo, Mustajab, mengatakan kekayaan alam dan komoditas kopi menjadi aset utama desa. Sekitar 80 persen warga Desa Tombo menggantungkan mata pencaharian dari sektor perkebunan kopi yang telah berkembang sejak ratusan tahun lalu.

“Potensi terbesar Desa Tombo ada pada alam dan kopi. Hampir 80 persen masyarakat merupakan petani kopi, sehingga komoditas ini menjadi tulang punggung perekonomian warga,” kata Mustajab saat ditemui di Sidawung Coffee, Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Rabu (15/7/2026).

Selain hamparan perkebunan kopi, Desa Tombo memiliki kawasan hutan, aliran sungai, serta sejumlah air terjun yang masih terjaga keasriannya. Potensi tersebut mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam, namun dilakukan secara selektif dengan mengutamakan prinsip keberlanjutan.

Menurut Mustajab, pemdes tidak ingin pengembangan wisata hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan lingkungan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Kami ingin ekonomi tumbuh tanpa merusak alam. Karena itu kami masih selektif terhadap investasi dari luar agar pengembangan kawasan tetap berpihak kepada masyarakat dan tidak menimbulkan eksploitasi lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejarah kopi di Desa Tombo telah dimulai sejak era kolonial Belanda sekitar tahun 1800-an. Karakter kopi Tombo bahkan tercatat dalam arsip Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu kopi yang memiliki cita rasa khas.

Untuk meningkatkan daya saing, Pemerintah Desa Tombo menggandeng Universitas Diponegoro (Undip) dalam membangun identitas kopi lokal melalui branding “Legendary Coffee”.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi kopi Tombo sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Batang.

Menurut Mustajab, kejayaan kopi Tombo sempat meredup ketika sebagian lahan perkebunan beralih menjadi tanaman teh pada masa pengelolaan PTPN. Namun dalam satu dekade terakhir, masyarakat kembali mengembangkan kopi sebagai komoditas utama.

“Kami ingin mengembalikan kejayaan kopi Tombo. Seluruh kopi yang disajikan di kedai berasal dari hasil panen petani lokal sehingga manfaat ekonominya langsung dirasakan masyarakat,” katanya.

Pengembangan sektor kopi juga mulai memberikan dampak terhadap perekonomian desa. Akses jalan menuju kawasan perkebunan yang semakin baik mempermudah aktivitas sekitar 300 petani kopi yang mengelola lahan di kawasan hutan.

Selain itu, keberadaan kedai kopi dan wisata berbasis alam telah membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 20 warga. Pengelolaannya dilakukan melalui kolaborasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), sekaligus mulai memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).

Ke depan, Pemerintah Desa Tombo menargetkan penguatan industri kopi dari hulu hingga hilir. Sejumlah program telah disiapkan, mulai dari pembangunan greenhouse, rumah produksi kopi, hingga pengembangan produk kopi celup yang melibatkan kelompok masyarakat, termasuk ibu-ibu desa dalam proses penyortiran biji kopi.

Mustajab menegaskan, seluruh pengembangan tersebut tetap berpijak pada komitmen menjaga kelestarian alam sebagai aset utama desa.

“Tujuan kami bukan mengejar jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya, tetapi menjaga agar alam tetap lestari. Kalau tidak dijaga, potensi yang ada bisa saja dimanfaatkan pihak luar tanpa memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap Desa Tombo tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga menjadi pusat edukasi pertanian dan kopi yang mampu menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap profesi petani.

“Melalui pendekatan ini, kami ingin memastikan kopi lokal tetap terjaga dan berkembang sebagai identitas Desa Tombo sekaligus memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” pungkasnya. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |