
Haul ke-16 Presiden ke-4 RI sekaligus Pahlawan Nasional KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jepara menjadi ruang perjumpaan lintas iman. Tokoh Konghucu, Kristen, dan Nahdlatul Ulama berkumpul mengenang sosok yang dikenal sebagai bapak toleransi Indonesia. - ()
Jepara, Infojateng.id – Haul ke-16 Presiden ke-4 RI sekaligus Pahlawan Nasional KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jepara menjadi ruang perjumpaan lintas iman. Tokoh Konghucu, Kristen, dan Nahdlatul Ulama berkumpul mengenang sosok yang dikenal sebagai bapak toleransi Indonesia.
Haul Gus Dur digelar di Aula PCNU Jepara, Jalan Pemuda, Senin (5/1) malam, diikuti Wakil Ketua PBNU KH Miftah Faqih, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Jepara, badan otonom, serta ratusan warga Nahdliyin. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Harlah NU ke-103 Hijriah dan 100 tahun Miladiyah.
Perwakilan Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan, Lim Sugandi, menyebut Gus Dur memiliki tempat istimewa di hati umat Konghucu. Menurutnya, Gus Dur berjasa besar mengembalikan hak-hak sipil penganut Konghucu di Indonesia.
“Tanpa Gus Dur, Konghucu bisa saja mati suri. Dulu kami bahkan harus pindah agama agar bisa hidup normal. Gus Dur yang mengembalikan martabat kami,” ungkap Lim.
Ia menambahkan, bentuk penghormatan umat Tionghoa kepada Gus Dur terus hidup hingga kini. Bahkan, ada kelenteng di Muntilan, Magelang, yang menyediakan ruang khusus penghormatan untuk Gus Dur. “Bagi kami, Gus Dur adalah Bapak Tionghoa Indonesia,” tegasnya.
Apresiasi serupa datang dari kalangan Kristen. Pendeta Piertno Hadi menilai Gus Dur layak dikenang sebagai simbol toleransi dan pluralisme. Meski umat Kristen minoritas, mereka tetap bisa menjalankan ibadah dengan aman dan damai.
“Kami merasa dilindungi. Spirit Gus Dur diteruskan NU. Saat gereja di Dermolo kesulitan, NU Jepara ikut turun membantu,” ujarnya.
Tokoh Kristen lainnya, Pdt Danang Kristiawan, menyebut pemikiran Gus Dur tetap relevan hingga kini. Salah satunya gagasan Just Peace atau perdamaian yang berkeadilan, yang bahkan kini ramai dibahas di Eropa.
“Gus Dur melawan kekerasan dengan kreativitas. Humor beliau bukan sekadar lucu, tapi filosofis dan penuh pesan kemanusiaan,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua PBNU KH Miftah Faqih menegaskan Haul Gus Dur bukan sekadar seremoni. Ia berharap nilai-nilai Gus Dur benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Gus Dur besar karena membesarkan orang lain. NU harus terus berubah, dari budaya kerumunan menuju transformasi yang sistematik,” pungkasnya. (one/redaksi)

1 week ago
22

















































