Kota Pekalongan, infojateng.id – Seekor burung merak yang bersinar di tengah gelapnya hutan menjadi simbol harapan dan keseimbangan alam dalam karya batik bertajuk Mayura Wana.
Karya ciptaan pembatik muda Kota Pekalongan, Trias Intan Pandini, tersebut menjadi salah satu dari 15 karya terbaik yang dipamerkan dalam pameran “Batik Membumi, Generasi Peduli” di Museum Batik Kota Pekalongan.
Pameran tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun Museum Batik Kota Pekalongan sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan pesan melalui karya batik.
Trias menjelaskan, nama Mayura Wana berasal dari bahasa Sanskerta. Mayura berarti burung merak, sedangkan wana bermakna hutan liar.
Melalui motif tersebut, ia menggambarkan seekor burung merak yang memancarkan cahaya di tengah kegelapan hutan. Gambaran itu menjadi simbol harapan sekaligus pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan manusia dengan alam.
“Saya ingin menyampaikan bahwa manusia sebagai makhluk hidup harus hidup berdampingan dan menjaga keseimbangan dengan alam,” kata Trias saat ditemui di Museum Batik Pekalongan, Kamis (23/7/2026).
Menurut dia, batik dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan mengenai lingkungan sekaligus mengajak generasi muda lebih dekat dengan budaya bangsa.
Trias berharap semakin banyak anak muda yang mencintai batik, bangga mengenakannya, dan berani menciptakan karya-karya baru.
“Saya berharap generasi muda semakin mencintai batik, bangga mengenakannya, dan terus berkarya, sehingga pembatik muda Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa batik memiliki makna, filosofi, dan pesan kehidupan,” ujarnya.
Kepala Museum Batik Kota Pekalongan Nurhayati Sinaga mengatakan, Mayura Wana merupakan satu dari 15 karya yang lolos proses kurasi dan dipamerkan dalam agenda tersebut.
Karya-karya yang ditampilkan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU), Universitas Pekalongan (Unikal), siswa SMK dengan kompetensi batik, hingga masyarakat umum melalui mekanisme open submission.
Nurhayati mengatakan, keterbatasan ruang pamer membuat pihak museum harus melakukan proses seleksi terhadap seluruh karya yang masuk.
“Ruang pamer kami hanya mampu menampilkan maksimal 15 karya. Karena itu, seluruh karya yang masuk harus melalui proses kurasi. Ke depan kami berharap semakin banyak pembatik muda yang berpartisipasi, sehingga semakin banyak karya yang dapat diapresiasi masyarakat,” katanya.
Pameran Batik Membumi, Generasi Peduli berlangsung pada 22 Juli hingga 12 Agustus 2026. Selain memperingati dua dekade Museum Batik Pekalongan, pameran tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk memperkenalkan perspektif baru dalam dunia batik tanpa meninggalkan akar budaya.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak hari pertama pameran. Salah seorang pengunjung, Rina Wulandari, warga Kabupaten Batang, mengaku sengaja datang untuk melihat karya para pembatik muda.
“Saya senang melihat anak-anak muda mampu menghadirkan motif batik yang tetap berakar pada budaya, tetapi dikemas dengan ide-ide yang segar. Pameran seperti ini sangat inspiratif dan membuat masyarakat semakin bangga terhadap batik sebagai warisan budaya Indonesia,” ujar Rina.
Pameran tersebut menunjukkan bahwa batik tidak berhenti sebagai warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tangan pembatik muda, batik terus berkembang menjadi medium untuk menyampaikan gagasan tentang lingkungan, identitas, dan kehidupan.
Melalui karya seperti Mayura Wana, pesan tentang harmoni manusia dan alam hadir dalam bentuk motif yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga membawa filosofi dan pesan kehidupan. (eko/redaksi)

1 day ago
8

















































