BPBD Wonogiri Perketat Pemantauan Elevasi Bendungan Krisak

14 hours ago 8

Wonogiri, infojateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri melakukan inspeksi teknis di Bendungan Krisak atau yang dikenal masyarakat sebagai Waduk Tandon, Desa Selogiri, Wonogiri.

Survei lapangan dipimpin Kepala Bidang Kedaruratan dan Rehabilitasi BPBD Wonogiri, Mudrik Alfan, didampingi Koordinator Bendungan Krisak, Budi Darma, Rabu (18/2/2026).

Langkah preventif ini dilakukan untuk memastikan bendungan yang dibangun pada 1943 tersebut tetap dalam kondisi prima serta mampu mengantisipasi potensi luapan air ke kawasan hilir.

Berdasarkan hasil pemantauan langsung pada alat ukur tinggi muka air (peilschaal) yang terpasang di dinding bendungan, elevasi air terpantau berada pada kisaran 12,4 meter.

Angka tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan langkah operasional pengendalian debit air.

Dia menjelaskan, secara teknis, Bendungan Krisak memiliki kapasitas tampungan total sebesar 3.717.000meter kubik, dengan volume efektif 2,34 juta meter kubik.

Dengan tinggi 15 meter, bendungan ini berfungsi mengairi lahan irigasi seluas 340 hektare sekaligus sebagai pengendali banjir di wilayah sekitarnya.

“Kami tidak hanya membaca angka, tetapi juga mencocokkannya dengan Tabel Pengaturan Elevasi Muka Air Waduk. Setiap kenaikan sentimeter sangat berarti dalam pengambilan keputusan,” ujar Alfan di lokasi.

Diterangkan, dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) yang terpasang, terdapat pembagian status kewaspadaan. Status Waspada (Elevasi +113,51 – 114,1 m), petugas mulai disiagakan untuk memeriksa dan mengawasi sistem informasi komunikasi secara intensif.

Selanjutnya, status Siaga (Elevasi +114,11 – 114,40 m), dilakukan pelepasan air waduk minimal 33,8 m³/detik secara bertahap hingga mencapai elevasi aman. Status Awas (Elevasi +114,41 – 114,80 m), seluruh petugas teknis (minimal 90 %) harus turun ke lapangan.

Koordinasi lintas sektoral dengan Dinas Kabupaten, TNI/Polri, serta BBWS Bengawan Solo dilakukan secara real time untuk upaya penanggulangan darurat.

Selain pemantauan elevasi, narasi teknis di lapangan menyebutkan, bendungan itu dioperasikan dalam tiga kondisi utama.

Pertama, kondisi normal di mana bendungan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan air irigasi petani di hilir.

Kedua, kondisi banjir, harus dilakukan operasi pengaturan muka air agar tetap berada pada elevasi aman melalui pintu pelimpah (spillway).

Terakhir, kondisi darurat, dalam kondisi itu harus dilakukan prosedur penurunan muka air secara cepat, guna merespons ancaman stabilitas struktur bendungan demi keselamatan publik.

Alfan menegaskan, inspeksi itu merupakan wujud kehadiran pemerintah dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Warga diimbau tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta selalu merujuk pada keterangan resmi BPBD maupun petugas pintu air.

“Sinergi antara data teknis di papan informasi dengan pantauan visual di lapangan adalah kunci. Kami pastikan setiap pergerakan air terpantau, terutama saat hujan deras melanda wilayah hulu,” ujarnya.

Hingga Rabu (18/2/2026) pukul 13.00 WIB, meskipun hujan turun cukup deras, kondisi Bendungan Krisak masih dalam batas kendali operasional. Namun, pengawasan tetap diperketat mengingat dinamika cuaca yang sulit diprediksi. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |