Kota Pekalongan, infojateng.id – Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kota Pekalongan meraih Peringkat III Lomba Video Kreatif Penyuluh Pertanian Tahun 2026 subkategori Pertanian Modern, Petani Makmur tingkat nasional.
Prestasi tersebut menjadi bagian dari upaya penyuluh pertanian Kota Pekalongan memperluas edukasi mengenai pertanian modern melalui media yang informatif, menarik, dan mudah dipahami masyarakat.
Penyuluh Pertanian Ahli Pertama yang membina wilayah Kecamatan Pekalongan Selatan, Yetty Marlince, mengatakan video yang meraih penghargaan tersebut mengangkat aktivitas penyuluh bersama petani dengan kemasan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Menurut Yetty, konsep pertanian modern yang ditampilkan dalam video tidak hanya berkaitan dengan penggunaan mesin pertanian berteknologi tinggi. Lebih dari itu, teknologi diarahkan untuk membuat pekerjaan petani menjadi lebih efektif dan efisien.
“Pertanian modern yang ditampilkan juga tidak semata-mata tentang penggunaan mesin canggih, melainkan bagaimana teknologi mampu membuat pekerjaan petani lebih efektif dan efisien,” kata Yetty saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.
Tampilkan Teknologi dari Tanam hingga Panen
Dalam video tersebut, sejumlah penerapan alat dan mesin pertanian (alsintan) ditampilkan secara langsung. Teknologi yang digunakan antara lain pengolahan lahan menggunakan TR4 dan crawler, penanaman menggunakan transplanter, penyemprotan dengan drone, hingga proses panen menggunakan combine harvester.
Menurut Yetty, pemanfaatan teknologi tersebut dapat membantu menekan biaya produksi dan kebutuhan tenaga kerja. Pada saat yang sama, penggunaan teknologi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Penghargaan tingkat nasional tersebut, lanjut Yetty, juga menjadi momentum bagi penyuluh untuk memperluas edukasi pertanian melalui media sosial.
Langkah itu dinilai penting agar informasi mengenai pertanian modern tidak hanya menjangkau petani, tetapi juga semakin dekat dengan generasi muda.
“Lomba ini bukan menjadi titik akhir, tetapi justru menjadi titik awal untuk memperluas edukasi dan penerapan pertanian modern di Kota Pekalongan,” ujarnya.
Penyuluh Dituntut Adaptif
Ketua Tim Kerja CWS (Co-Working Space) Kota Pekalongan, Amalia Khusna, mengatakan capaian tersebut menjadi motivasi bagi para penyuluh untuk terus mengembangkan kemampuan, termasuk dalam memanfaatkan media informasi.
Menurut Amalia, penghargaan tersebut tidak semata-mata dilihat dari peringkat yang diraih. Prestasi nasional itu menjadi dorongan agar penyuluh semakin kreatif dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Penghargaan tersebut bukan sekadar persoalan peringkat. Capaian nasional itu menjadi motivasi bagi penyuluh untuk terus belajar, berkreasi, serta mengikuti perubahan cara masyarakat memperoleh informasi,” kata Amalia. (eko/redaksi)

1 day ago
9
















































