Sragen, infojateng.id – Tumpukan sampah plastik di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jambeyan, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, mendorong Sugiyono (46) mencari solusi.
Warga Dukuh Sunggingan, Desa Jambeyan, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir ambulans itu mengolah sampah plastik menjadi minyak sekaligus gas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Sugiyono, yang akrab disapa Mas Gondrong, mengembangkan inovasi tersebut dari percobaan sebelumnya.
Jika semula ia fokus menghasilkan minyak atau biosolar dari sampah plastik, kini ia juga memanfaatkan gas yang dihasilkan dari proses pirolisis sebagai bahan bakar kompor.
Gas tersebut dihasilkan melalui proses pemanasan sampah plastik dalam kondisi kedap udara. Selanjutnya, gas ditampung menggunakan tabung bekas freon dan disalurkan ke kompor yang telah dimodifikasi.
Hasilnya, gas pirolisis tersebut mampu menghasilkan api berwarna biru dengan nyala yang relatif stabil.
“Gas pirolisis ini saya coba masukkan ke tabung kompresi, dan ternyata bisa menyala dengan sedikit modifikasi pada kompor,” ujar Sugiyono saat dihubungi, Rabu (9/9/2026).
Menurut Sugiyono, dari sekitar satu kilogram sampah plastik, dapat dihasilkan gas dengan tekanan mencapai 300 psi. Gas tersebut dapat digunakan untuk menyalakan kompor selama sekitar 55 menit.
Namun, dari sisi efisiensi, energi yang dihasilkan masih belum menyamai elpiji. Sugiyono memperkirakan dibutuhkan sekitar delapan tabung gas hasil pengolahan sampah plastik untuk menyamai penggunaan satu tabung elpiji 3 kilogram.
Berawal dari Sampah SPPG
Ide tersebut berawal dari persoalan sampah yang dihadapi SPPG Jambeyan. Setiap hari, volume sampah yang dihasilkan dapat mencapai 20-30 kilogram, terdiri atas sampah organik dan anorganik.
“Awalnya saya pusing, sampah ini mau dikemanakan. Sehari bisa 20-30 kilogram sampah. Kalau plastik dibakar, residunya banyak, asapnya hitam pekat dan mengganggu,” tuturnya.
Berbekal rasa penasaran, Sugiyono kemudian belajar secara otodidak melalui internet. Ia merakit alat pirolisis sederhana dengan memanfaatkan berbagai barang bekas, seperti pipa dan tabung freon, yang dimodifikasi menjadi instalasi pengolahan sampah.
Meski sebagian besar material menggunakan barang bekas, pembuatan alat tersebut tetap membutuhkan modal sekitar Rp3 juta. Biaya itu digunakan untuk membeli drum, rangka, keperluan pengelasan, hingga kompor oli.
Pada tahap awal, tujuan Sugiyono sederhana. Ia ingin mengurangi volume sampah plastik sekaligus mengambil minyak dari proses kondensasi.
Namun, saat proses pembakaran berlangsung, ia menemukan adanya uap gas yang ikut dihasilkan. Rasa penasaran membuatnya mencoba membakar gas tersebut.
“Ternyata gas langsung menyala,” katanya.
Temuan itu kemudian dikembangkan hingga gas pirolisis dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor.
Dorong Pengolahan Sampah dari Lingkungan
Saat ini, instalasi buatan Sugiyono masih digunakan untuk mengolah sampah dari lingkungan SPPG Jambeyan. Sampah diantar oleh petugas kebersihan atau office boy untuk kemudian diproses menggunakan alat tersebut.
Meski sampah yang diterima belum seluruhnya terpilah, Sugiyono terus mendorong pemilahan sejak dari sumbernya. Menurutnya, pemilahan akan membuat proses pengolahan sampah menjadi lebih optimal.
Ia berharap inovasi sederhana tersebut dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat, termasuk instansi, RT maupun RW.
Pengolahan sampah di tingkat lingkungan dinilai dapat mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Ini sebenarnya solusi alternatif yang murah karena dibuat dari barang bekas. Kalau tiap unit atau RT/RW punya alat pengolahan sendiri, sampah bisa selesai di lingkungan masing-masing dan tidak membebani TPA seperti TPA Tanggan, serta mencegah warga membuang sampah sembarangan ke sungai,” harapnya.
Bagi Sugiyono, inovasi tersebut bukan sekadar upaya menghasilkan energi alternatif. Ia ingin membuktikan bahwa sampah yang selama ini dianggap sebagai persoalan dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. (eko/redaksi)

13 hours ago
4
















































