Batang, infojateng.id – Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mendorong permainan tradisional atau dolanan anak menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar sebagai upaya membentuk karakter generasi muda sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai sejak usia dini.
Hal itu disampaikan saat meninjau Festival Dolanan Anak tingkat Kabupaten Batang yang digelar di halaman Pendopo Kabupaten Batang, Rabu (1/7/2026).
Festival tersebut diikuti pelajar sekolah dasar yang berkompetisi dalam berbagai permainan tradisional, seperti gobak sodor dan suda manda (engklek).
Menurutnya, dolanan anak memiliki banyak manfaat karena memadukan unsur olahraga, kecerdasan, dan kebersamaan dalam suasana yang menyenangkan.
“Permainan-permainan ini sebenarnya olahraga yang dikemas dalam bentuk permainan. Ada olahraga fisik, olahraga pikir, dan olahraga otak. Dampak positifnya sangat banyak. Permainan seperti gobak sodor melatih kelincahan, kecepatan bergerak, kerja sama tim, hingga kemampuan menyusun strategi. Sementara permainan suda manda atau engklek juga mampu melatih keseimbangan tubuh serta koordinasi gerak anak,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Faiz juga mengenang masa kecilnya yang akrab dengan berbagai permainan tradisional. Ia bahkan menceritakan pengalaman lucu saat masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar ketika bermain gobak sodor.
“Waktu main gobak sodor saya pernah tertangkap, celana saya sampai ketarik dan melorot,” kenangnya sambil tersenyum.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa permainan tradisional pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak-anak Indonesia sebelum berkembangnya permainan digital.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Batang berkomitmen menghidupkan kembali dolanan anak melalui kegiatan pendidikan di sekolah.
“Kita berharap permainan tradisional ini nantinya menjadi ekstrakurikuler di setiap sekolah, supaya anak-anak mengenal permainan yang melatih fisik, melatih otak, sekaligus meminimalisasi ketergantungan terhadap gadget,” katanya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan adanya kompetisi permainan tradisional hingga tingkat provinsi maupun nasional, Faiz mengaku sejauh ini belum mengetahui adanya ajang resmi seperti pada cabang olahraga lainnya.
Meski demikian, ia membuka peluang agar ke depan Kabupaten Batang dapat mengembangkan kompetisi dolanan anak secara lebih luas.
“Kalau sekarang belum ada kompetisi sampai tingkat provinsi atau nasional. Tapi nanti insyaallah kita pikirkan supaya bisa dibuat juga. Kompetisi permainan tradisional dapat menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak untuk menyalurkan bakat di bidang permainan rakyat yang mulai jarang dimainkan,” tegasnya.
Salah seorang peserta, Rifki, siswa SD Kauman 7 Batang, mengaku antusias mengikuti lomba gobak sodor. Meski sebelumnya belum pernah memainkan permainan tersebut, ia bersama teman-temannya berlatih selama sekitar satu minggu sebelum perlombaan.
“Senang sekali bisa bermain sambil bertanding. Kami latihan sekitar seminggu sebelum lomba. Gobak sodor bukan sekadar permainan biasa karena membutuhkan kerja sama seluruh anggota tim agar mampu melewati penjagaan lawan. Permainan ini mengajarkan kerja sama tim, kelincahan, dan strategi supaya bisa melewati lawan,” ujarnya.
Melalui penyelenggaraan lomba dolanan anak, Pemerintah Kabupaten Batang berharap permainan tradisional kembali menjadi bagian dari kehidupan anak-anak sekaligus menjadi media pendidikan karakter yang mampu membentuk generasi sehat, kreatif, sportif, serta mencintai budaya warisan bangsa. (eko/redaksi)

2 weeks ago
27

















































