Maba UIN Walisongo Soroti Nasib Guru, Gus Yasin: Guru Harus Sejahtera

1 day ago 5

Semarang, Infojateng.id – Persoalan kesejahteraan guru menjadi sorotan dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Walisongo Semarang 2026. Seorang mahasiswa baru Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Muhammad Dimas Ardiansyah, menyampaikan aspirasinya langsung kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.

Momen tersebut berlangsung saat Gus Yasin menjadi narasumber Orasi Kebangsaan di Lapangan Kampus 3 UIN Walisongo, Selasa (18/8/2026).

Dimas yang merupakan calon guru mengaku prihatin dengan kondisi sebagian guru yang dinilai belum memperoleh penghargaan dan kesejahteraan yang layak. Ia bahkan tak kuasa menahan tangis saat mengingat jasa para guru yang telah mengenalkannya pada pendidikan sejak kecil.

“Para guru yang telah mendidik kita, dari kita mengenal membaca, kita mengenal alif, ba, ta, sa, jim dari guru-guru yang mendidik kita,” ujar Dimas dengan suara bergetar.

Ia kemudian meminta penjelasan mengenai program dan langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan kesejahteraan guru.

Menanggapi hal tersebut, Taj Yasin menegaskan kesejahteraan guru menjadi salah satu perhatian Pemprov Jateng. Salah satunya melalui pengangkatan guru menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Siapa yang paling banyak mengangkat PPPK guru di Indonesia? Jawa Tengah paling banyak untuk mensejahterakan gurunya,” kata Gus Yasin.

Berdasarkan data Pemprov Jateng, terdapat 17.662 guru PPPK di bawah naungan Pemprov Jateng serta 2.954 guru PPPK paruh waktu.

Menurut Taj Yasin, status PPPK memberikan kepastian penghasilan dan tambahan kesejahteraan sesuai ketentuan yang berlaku.

Insentif Guru Nonformal Dipertahankan

Perhatian pemerintah, lanjut Gus Yasin, tidak hanya diberikan kepada guru formal. Pemprov Jateng juga mempertahankan insentif bagi guru nonformal, termasuk guru agama di pesantren dan madrasah.

“Sejak lima tahun yang lalu guru-guru agama kita beri insentif. Sampai hari ini kita masih mempertahankan insentif itu di saat ekonomi kita tidak baik-baik saja. Kita enggak mengurangi satu persen pun,” tegasnya.

Ia mengakui masih banyak guru nonformal yang memiliki penghasilan terbatas. Karena itu, insentif tersebut dipertahankan sebagai bentuk penghargaan sekaligus dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan pendidikan.

Gus Yasin juga mengapresiasi keberanian mahasiswa menyampaikan aspirasi secara terbuka. Menurutnya, sikap kritis mahasiswa diperlukan agar pemerintah mengetahui persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Saya senang. Saya ucapkan terima kasih kepada UIN, mahasiswanya yang kritis, menyampaikan aspirasi untuk kemasyarakatan,” ujarnya.

Ia memastikan aspirasi terkait kesejahteraan guru akan terus dikawal, termasuk melalui komunikasi dengan pemerintah kabupaten dan kota.

“Guru harus sejahtera, guru harus dipikirkan. Ini akan kita kawal bersama-sama,” tegas Taj Yasin.

Menurutnya, perhatian terhadap kesejahteraan guru bukan semata persoalan penghasilan, tetapi bagian dari investasi terhadap masa depan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Saya sepakat bahwa pendidikan adalah pintu kemajuan Negara Republik Indonesia ini,” pungkasnya. (one/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |