Batang, infojateng.id – Mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengajak pelajar SD Negeri 1 Kedungsegog, Kabupaten Batang, untuk berani melawan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Ajakan tersebut dikemas melalui program sosialisasi psikoedukasi bertajuk “#TemanBaik, Gerakan Anti Bullying”.
Kegiatan dirancang interaktif agar siswa tidak hanya memahami pengertian bullying, tetapi juga mampu mengambil sikap ketika melihat tindakan perundungan.
Mahasiswa Psikologi Undip yang tergabung dalam tim KKN, Permata Sarifazia Subakti, mengatakan kegiatan diawali dengan permainan yang menguji kepercayaan antarsiswa.
Salah satu siswa dari setiap kelompok diminta menjatuhkan badan, sementara teman-temannya bertugas menopang.
Setelah itu, siswa diajak mengikuti sesi refleksi bertajuk “Bagaimana Perasaan Kamu?”. Mereka diminta membandingkan perasaan ketika mendapatkan dukungan dengan kondisi ketika tidak ada teman yang menopang atau memberikan bantuan.
“Siswa diajak masuk ke sesi refleksi bertajuk ‘Bagaimana Perasaan Kamu?’. Fasilitator mengajukan dua pertanyaan reflektif secara bergantian, yaitu bagaimana rasanya berada di tengah dan ditopang oleh teman-teman, dibandingkan dengan bagaimana rasanya ketika tidak ada yang menopang atau mendukung,” kata Permata saat ditemui di SDN 1 Kedungsegog, Kabupaten Batang, Rabu (19/8/2026).
Menurut dia, pengalaman tersebut membantu siswa memahami pentingnya rasa aman dan dukungan dari lingkungan sekitar. Hal itu kemudian dikaitkan dengan dampak bullying terhadap korban.
Siswa Diajak Kenali Peran Bystander
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan istilah bystander, yakni orang yang melihat atau mengetahui tindakan bullying tetapi tidak terlibat langsung sebagai pelaku maupun korban.
Setiap kelompok siswa mendapatkan gulungan kertas berisi situasi yang berkaitan dengan bullying. Mereka kemudian diminta menuliskan tindakan yang mungkin dilakukan ketika menghadapi situasi tersebut.
Jawaban siswa pun beragam. Ada yang memilih ikut tertawa, ikut mengusili korban, atau berpura-pura tidak melihat. Namun, ada pula yang memilih tindakan suportif seperti mengajak korban bermain, menanyakan alasan seseorang dikucilkan, hingga melaporkan kejadian kepada guru.
Permata mengatakan aktivitas tersebut bertujuan mengetahui pemahaman awal siswa sekaligus mengajak mereka membedakan tindakan yang dapat memperburuk bullying dan tindakan yang bisa membantu korban.
“Setelah aktivitas reflektif dan diskusi kelompok, sesi dilanjutkan dengan pemaparan materi inti. Bullying dijelaskan sebagai perilaku menyakiti orang lain yang dilakukan secara sengaja dan berulang, sehingga membuat korban merasa tertekan, takut, atau sedih,” jelasnya.
Para siswa juga diperkenalkan dengan empat bentuk bullying, yakni fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying.
Selain itu, mahasiswa KKN menjelaskan tiga peran dalam peristiwa bullying, yaitu pelaku, korban, dan bystander.
Materi tersebut kemudian dikaitkan kembali dengan permainan dan diskusi sebelumnya. Siswa diajak melihat posisi mereka ketika menyaksikan bullying sekaligus memikirkan tindakan yang dapat dilakukan untuk membantu korban.
Dorong Sekolah Jadi Ruang Aman
Permata mengatakan program tersebut merupakan bagian dari rangkaian intervensi psikologis mahasiswa KKN di Desa Kedungsegog.
Program itu sekaligus mendukung dua tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.
“Lewat penguatan kesadaran akan hak-hak anak dan lingkungan belajar yang aman, program ini turut mendorong terciptanya ruang pendidikan yang bebas dari kekerasan sejak usia sekolah dasar,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan kegiatan tidak semata-mata diukur dari kemampuan siswa menghafal definisi atau jenis bullying.
Lebih jauh, mahasiswa berharap muncul perubahan sikap sehingga siswa berani mengambil peran ketika melihat tindakan perundungan di lingkungan sekitar.
Melalui gerakan #TemanBaik, siswa SDN 1 Kedungsegog diharapkan mampu membangun kebiasaan saling menjaga, mendukung teman, serta berani bersuara ketika melihat tindakan yang dapat menyakiti orang lain.
“Lewat program ini, tim berharap siswa SDN 1 Kedungsegog tumbuh menjadi #TemanBaik yang berani bersuara dan saling menjaga satu sama lain,” pungkas Permata. (eko/redaksi)

7 hours ago
4

















































