Kota Pekalongan, infojateng.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan didorong untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dengan memulai pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.
Langkah tersebut dinilai menjadi kunci agar proses pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berjalan lebih efektif dan efisien.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Franky Zamzani, saat mendampingi Tim Adaptation Fund Kemitraan Indonesia meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Mitra Brayan Resik di Kelurahan Kuripan Kertoharjo, Kota Pekalongan, baru-baru ini.
Menurut Franky, kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga akan memudahkan proses pengelolaan di TPST karena petugas tidak perlu lagi melakukan pemilahan ulang.
“Kalau bisa pemilahan sampah sudah dilakukan dari rumah tangga, sehingga ketika sampai di TPST tidak perlu dipilah ulang. Ini akan membuat pengelolaan sampah menjadi lebih efektif dan efisien,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Franky juga mengapresiasi keberadaan TPST Mitra Brayan Resik yang dinilai menjadi bukti komitmen Pemkot Pekalongan dalam menangani persoalan sampah secara berkelanjutan.
Ia berharap berbagai upaya yang telah dilakukan dapat terus ditingkatkan sehingga semakin banyak sampah yang dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali.
Menurutnya, peningkatan kualitas pengelolaan sampah juga berpotensi mendukung capaian Kota Pekalongan dalam penilaian Adipura pada tahun-tahun mendatang.
“Berbagai inisiatif yang dilakukan sudah sangat baik. Ke depan, pengelolaan sampah perlu terus ditingkatkan agar prestasi Kota Pekalongan, termasuk dalam penilaian Adipura, bisa semakin baik,” katanya.
Menurut Franky, pelaksanaan Program Adaptation Fund di Kota Pekalongan telah menunjukkan hasil yang baik, mulai dari pembangunan infrastruktur perlindungan pesisir, rehabilitasi mangrove, hingga pemberdayaan masyarakat melalui urban farming, hidroponik, dan pengembangan ekowisata berbasis komunitas.
Program tersebut meliputi pembangunan infrastruktur perlindungan pesisir, rehabilitasi kawasan mangrove, pemberdayaan masyarakat melalui urban farming dan hidroponik, hingga pengembangan ekowisata berbasis komunitas.
Menurut Franky, berbagai upaya tersebut tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan masyarakat serta meningkatkan kemampuan daerah dalam menghadapi dampak perubahan iklim. (eko/redaksi)

2 weeks ago
27

















































