Saat Siswa Tak Lagi Berani Tampil: Bangun Kepercayaan Diri melalui Self-Efficacy dan AIK

2 days ago 7

Batang, infojateng.id – Kemampuan akademik yang baik tidak selalu berbanding lurus dengan keberanian siswa untuk tampil di depan kelas.

Fenomena semakin banyaknya peserta didik yang enggan berbicara, takut mempresentasikan hasil kerja, hingga memilih diam saat diminta menyampaikan pendapat menjadi tantangan baru dalam dunia pendidikan.

Guru SMP Negeri 4 Batang, Aloysius Aditya Pamrayogi, menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya penurunan performance confidence atau kepercayaan diri siswa dalam menampilkan potensi yang dimiliki.

“Di sekolah, kita sering menjumpai siswa yang sebenarnya memahami materi dan memperoleh nilai yang baik, tetapi ketika diminta menjelaskan hasil pekerjaannya di depan kelas justru memilih diam atau menolak tampil,” ujar Aloysius saat ditemui di SMPN 4 Batang, Kabupaten Batang, Jumat (17/7/2026).

Menurut dia, perubahan pola belajar yang dipengaruhi perkembangan teknologi digital menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Peserta didik kini lebih terbiasa berkomunikasi melalui media sosial dibandingkan berinteraksi secara langsung.

Akibatnya, ketika harus berbicara di depan kelas, banyak siswa mengalami kecemasan, takut melakukan kesalahan, khawatir menjadi bahan tertawaan teman, hingga merasa dirinya tidak lebih baik dibandingkan orang lain.

“Fenomena ini semakin tampak setelah perubahan pola belajar beberapa tahun terakhir. Anak-anak lebih nyaman berkomunikasi lewat media digital sehingga saat harus tampil langsung mereka menjadi kurang percaya diri,” katanya.

Self-Efficacy Jadi Fondasi

Aloysius menjelaskan, teori Self-Efficacy yang dikembangkan psikolog Albert Bandura dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memahami sekaligus mengatasi persoalan tersebut.

Menurutnya, self-efficacy merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan.

“Seseorang dengan self-efficacy tinggi belum tentu memiliki kemampuan terbaik, tetapi ia yakin mampu belajar, berusaha, dan menyelesaikan tantangan. Sebaliknya, mereka yang memiliki self-efficacy rendah cenderung menghindari tugas yang dianggap sulit dan lebih fokus pada kemungkinan gagal,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengalaman negatif saat tampil di depan kelas sering kali memperburuk kondisi tersebut. Kesalahan kecil yang direspons dengan komentar negatif dapat memunculkan pikiran otomatis seperti merasa tidak mampu, takut salah, atau khawatir ditertawakan teman.

Jika kondisi itu terus berulang, kata dia, siswa akan semakin kehilangan keberanian untuk tampil di depan umum.

Dipadukan dengan Nilai AIK

Sebagai bagian dari pendidikan Muhammadiyah, Aloysius menilai penguatan self-efficacy perlu dipadukan dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Menurutnya, dalam perspektif Islam, kepercayaan diri bukanlah bentuk kesombongan, melainkan keyakinan bahwa setiap manusia memiliki potensi yang harus dioptimalkan melalui ikhtiar dan kerja keras.

“AIK memberikan dimensi spiritual bahwa setiap usaha yang dilakukan merupakan bagian dari ibadah kepada Allah. Jadi, membangun kepercayaan diri tidak hanya dari sisi psikologis, tetapi juga karakter dan nilai keislaman,” ujarnya.

Ia mengatakan, guru Bimbingan dan Konseling dapat mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut melalui layanan yang membantu siswa mengubah pola pikir negatif menjadi lebih positif sekaligus melatih keterampilan berbicara di depan umum.

Lingkungan Belajar Harus Suportif

Selain guru BK, menurut Aloysius, guru mata pelajaran juga memiliki peran penting dalam membangun keberanian siswa.

Ia menilai ruang kelas harus menjadi lingkungan yang aman bagi peserta didik untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar memperbaikinya tanpa rasa takut dihakimi.

Budaya mengejek teman saat presentasi, lanjut dia, harus dihilangkan dan diganti dengan kebiasaan saling menghargai serta memberikan umpan balik yang membangun.

“Lingkungan yang suportif akan mempercepat tumbuhnya performance confidence siswa,” katanya.

Aloysius menegaskan, sekolah sudah saatnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta didik untuk berani tampil, menyampaikan gagasan, dan mengembangkan potensinya.

“Ketika self-efficacy tumbuh dan nilai-nilai AIK tertanam kuat dalam diri siswa, maka performance confidence tidak lagi menjadi kelemahan, melainkan menjadi kekuatan yang melahirkan generasi pembelajar yang unggul, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya. (eko/redaksi)  

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |