Pati, infojateng.id – Bendung Karet Sungai Juana di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, mendadak ramai didatangi warga. Mereka penasaran melihat kondisi sungai yang mengering hingga menyebabkan ikan-ikan terdampar.
Pantauan di lokasi pada Selasa (1/9/2026) sore, warga berdatangan ke sekitar bendung untuk melihat langsung kondisi Sungai Juana yang mengalami penyusutan air secara drastis.
Di tengah sungai yang sebagian besar tampak kering, terlihat banyak ikan sapu-sapu terdampar. Sebagian ikan masih bergerak, sementara lainnya ditemukan sudah mati.
Bendung Karet Sungai Juana selama ini berfungsi mengatur distribusi air untuk kebutuhan irigasi lahan pertanian sekaligus menjadi penyekat antara air tawar dan air asin di Sungai Juana.
Namun, kondisi berbeda terlihat saat kemarau. Tampungan air di sekitar bendung menyusut hingga membuat bagian sungai tampak kering kerontang.
Salah seorang warga Juwana, Anton, mengaku datang setelah melihat informasi mengenai kondisi Bendung Karet Sungai Juana di media sosial.
“Saya dari Juwana tahunya dari postingan, itu kondisinya kering banyak ikan terdampar,” kata Anton saat ditemui di lokasi.
Menurut Anton, kondisi bendung hingga benar-benar asat seperti sekarang merupakan kejadian yang jarang terjadi. Ia menduga kemarau panjang dan kebutuhan air yang tinggi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan debit air cepat menyusut.
“Terus dulu waktu pembangunan saya ke sini banyak air, terus ternyata sekarang habis. Ini karena pengaruh musim kemarau panjang. Biasanya nggak seperti ini,” ujarnya.
Anton juga menyebut kondisi tersebut mulai terlihat sekitar sepekan terakhir. Menurut dia, air di sepanjang Sungai Juana banyak dimanfaatkan petani sehingga debitnya semakin cepat berkurang.
Warga Desa Bungasrejo, Lukito, mengatakan mengeringnya Bendung Karet Sungai Juana tidak terlepas dari kondisi kemarau yang cukup ekstrem.
Menurutnya, kebutuhan air petani di sepanjang aliran Sungai Juana meningkat karena memasuki masa tanam. Di sisi lain, pasokan air dari arah hulu yang biasanya mengalir ke Sungai Juana disebut berkurang.
“Ya semula ini tampungan air dari atas memang kurang, untuk petani yang banyak membutuhkan air karena musim tanam. Karena kemarin embung masih ada, harapan warga bisa tanam, tapi ternyata panas sungguh ekstrem jadi tidak ada air,” kata Lukito.
Mengeringnya sungai juga berdampak terhadap ikan yang hidup di dalamnya. Lukito menyebut banyak ikan sapu-sapu terdampar sejak sekitar sepekan terakhir.
“Jutaan ikan terdampar sejak seminggu, ada yang diambil. Kemarin lebih banyak sekali. Kemarin sempat banyak diambil, sekarang sudah nggak, kondisinya kotor dan banyak yang mati,” ujarnya.
Lukito berharap ada tambahan pasokan air dari waduk atau sumber air lainnya ke Sungai Juana. Ia khawatir kemarau yang berkepanjangan semakin menyulitkan petani untuk mendapatkan air irigasi.
“Harapan semoga air dari atas supaya bisa turun ke sungai, warga bisa tanam lagi karena banyak modal sudah dikeluarkan,” jelasnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pengelola Bendung Karet Sungai Juana terkait kondisi tersebut belum mendapatkan keterangan.
Pengelola yang ditemui di lokasi tidak bersedia memberikan pernyataan dan menyarankan agar konfirmasi dilakukan kepada pengelola yang berada di Semarang. (eko/redaksi)

4 hours ago
1

















































