Batang, infojateng.id – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Batang meminta masyarakat aktif memperbarui data kondisi sosial ekonomi keluarga. Langkah tersebut penting untuk memastikan tingkat kesejahteraan yang tercatat dalam data pemerintah sesuai dengan kondisi warga sebenarnya.
Kepala Dinsos Batang Willopo mengatakan kondisi ekonomi keluarga dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat tidak perlu pasif apabila menemukan ketidaksesuaian data, termasuk ketika keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas justru tercatat dalam desil kesejahteraan yang lebih tinggi.
“Terus lakukan pemutakhiran data. Artinya, masyarakat bisa mengusulkan perubahan atau pembaruan data. Dinsos daerah berperan sebagai fasilitator pengusulan dan pembaruan, sedangkan penetapan tingkat kesejahteraan dilakukan di tingkat pusat,” kata Willopo saat ditemui di kantornya, Senin (1/9/2026).
Menurutnya, warga yang merasa datanya tidak sesuai dapat mengajukan pemutakhiran melalui pemerintah desa atau kelurahan tempat tinggal. Proses tersebut dilakukan melalui operator Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG).
“Saran kami adalah melakukan pemutakhiran. Caranya dengan berkoordinasi atau menghubungi pemerintah desa atau kelurahan tempat kita tinggal,” ujarnya.
Warga juga dapat meminta pendampingan dari petugas Program Keluarga Harapan (PKH). Dinsos Batang memiliki 106 pendamping PKH yang menjangkau 248 desa dan kelurahan di wilayah tersebut.
“Pendamping PKH menjangkau 248 desa dan kelurahan. Meskipun jumlahnya 106 orang, satu pendamping bisa menangani beberapa desa atau kelurahan,” jelasnya.
Willopo menegaskan, pengajuan perubahan data harus berdasarkan kondisi sebenarnya. Data yang disampaikan warga akan menjadi bagian dari proses pemutakhiran dan penilaian kondisi sosial ekonomi.
Ia menjelaskan, penilaian kesejahteraan tidak dilakukan secara sembarangan. Terdapat 39 variabel yang digunakan, terdiri atas 13 variabel individu dan 26 variabel keluarga.
Variabel individu antara lain mencakup NIK, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan kondisi kesehatan. Sementara variabel keluarga meliputi kondisi serta fasilitas tempat tinggal, seperti jenis dinding, lantai, atap, sanitasi, sumber listrik, hingga bahan bakar untuk memasak.
“Semua indikator tersebut menjadi bagian dalam menilai tingkat kesejahteraan rumah tangga secara objektif. Jika ada perubahan kondisi, masyarakat dapat mengajukannya melalui formulir dengan melengkapi 39 variabel tersebut,” terangnya.
Willopo berharap masyarakat tidak ragu mengajukan pembaruan apabila terdapat perubahan kondisi ekonomi keluarga. Dengan data yang lebih mutakhir, penyaluran program perlindungan sosial diharapkan dapat lebih tepat sasaran.(eko/redaksi)

1 day ago
9

















































