Dulu Ada 130, Kini Motif Batik Rifaiyah Batang Tersisa Sekitar 30

10 hours ago 3

Batang, infojateng.id – Kekayaan motif Batik Rifaiyah di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, belum seluruhnya teridentifikasi. Namun, sejumlah motif khas kini semakin sulit ditemukan seiring berkurangnya jumlah perajin yang mampu membuat pola-pola rumit.

Salah seorang perajin Batik Rifaiyah Batang, Nadhiroh, mengatakan pada era 1990-an terdapat sekitar 130 motif Batik Rifaiyah yang berkembang di kalangan perajin. Kini, diperkirakan hanya sekitar 30 motif yang masih dibuat.

“Kalau orang dulu bisa membuat sketsa batik yang susah-susah, motifnya seperti Jamplang. Untuk sekarang kebanyakan hanya motif yang mudah seperti Pelowati,” kata Nadhiroh saat ditemui di Gang Randu, Kelurahan Watesalit, Kabupaten Batang, Senin (7/9/2026).

Nadhiroh mengaku telah mengenal proses membatik sejak berusia 11 tahun. Empat tahun kemudian, saat berusia 15 tahun, ia mulai belajar mewarnai batik.

Hingga kini, ia masih menguasai sejumlah motif khas Batik Rifaiyah, di antaranya Pelowati, Jeruk Noi, Gendakan, Petir, dan Romo.

Menurut Nadhiroh, keterampilan membatik yang diperolehnya sejak kecil terus dipertahankan. Namun, regenerasi perajin menjadi tantangan tersendiri karena generasi muda dinilai kurang tertarik menekuni batik.

“Anak-anak sekarang tidak mau membatik karena secara finansial tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Selain persoalan regenerasi, proses pembuatan Batik Rifaiyah juga membutuhkan waktu cukup lama. Untuk satu lembar batik dengan bahan atau motif sederhana, pengerjaannya bisa memakan waktu sekitar satu bulan.

Sementara untuk motif yang lebih rumit dan membutuhkan pengerjaan halus, proses pembuatannya dapat berlangsung hingga tiga atau empat bulan.

“Untuk satu lembar batik dengan bahan atau motif sederhana, pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Sementara untuk motif yang rumit dan membutuhkan pengerjaan halus, prosesnya dapat berlangsung tiga hingga empat bulan,” terangnya.

Meski menghadapi tantangan regenerasi, Nadhiroh menilai Batik Rifaiyah tetap memiliki nilai ekonomi, terutama jika mendapat perhatian dari kolektor. Kain batik dengan motif tertentu, menurut dia, dapat menjadi investasi apabila ada kolektor yang tertarik membeli dan menyimpannya.

Pengalaman mengikuti pameran batik di Darwin, Australia, semakin menguatkan pandangannya. Ia menyebut karya Batik Rifaiyah yang dibawa dalam pameran mendapat apresiasi dari masyarakat setempat.

“Pengalaman di Darwin memberikan kesan mendalam karena batik karya kami sangat dihargai oleh warga lokal,” katanya.

Nadhiroh berharap kegiatan pengenalan Batik Rifaiyah di luar negeri dapat kembali digelar pada tahun-tahun mendatang, termasuk melalui undangan lanjutan dari pihak konsulat.

Menurutnya, kegiatan semacam itu penting untuk memperluas pengenalan Batik Rifaiyah sekaligus meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap seni membatik.

Ia berharap pengenalan batik dapat dilakukan sejak bangku sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Dengan demikian, keterampilan membuat motif-motif lama yang semakin langka dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Harapannya generasi muda, siswa SD, SMP, SMA, tertarik untuk mempelajari seni membatik agar Batik Rifaiyah terus lestari dan semakin dikenal di tingkat dunia,” pungkasnya. (eko/redaksi)

Read Entire Article
Kabar Jateng | InewS | | |