Semarang, infojateng.id – Live Project akan kembali hadir di Semarang pada 31 Oktober 2026 di Lapangan Udara (Lanud) Ahmad Yani Semarang dengan membawa sejumlah pembaruan dalam penyelenggaraan tahun ini.
Memasuki edisi keempat sejak pertama kali digelar pada 2022, Live Project 2026 kembali mempertemukan puluhan ribu penonton dengan musisi lintas generasi, sekaligus menghadirkan pendekatan baru dalam membangun pengalaman audiens.
Pendekatan baru tersebut diwujudkan melalui kolaborasi bersama Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini (NKSTHI), sebuah IP kreatif yang mengangkat keluh kesah sehari-hari menjadi bahasa dan identitas visual yang dekat dengan audiens.
Bersama NKSTHI, Live Project 2026 menghadirkan konsep Mens Sambat in Corpore Sano untuk membawa semangat “sambat” dan sehat ke dalam rancangan pengalaman dengan pendekatan yang ringan, menyenangkan dan dekat dengan keseharian pengunjung.
Bersamaan dengan pengenalan kolaborasi tersebut, Live Project 2026 juga mengumumkan Sheila On 7 sebagai nama terakhir yang melengkapi line-up tahun ini.
Kembalinya Sheila On 7 akan melengkapi enam penampil yang telah diumumkan sebelumnya, yaitu Good Morning Everyone, Lomba Sihir, Kunto Aji, Mahalini, Afgan, dan The Changcuters, menghadirkan deretan musisi dengan karakter dan basis pendengar yang beragam dalam satu panggung Live Project 2026.
Sejak kali pertama diselenggarakan pada 2022, Live Project terus berkembang menjadi salah satu festival musik tahunan terbesar di Semarang.
Memasuki penyelenggaraan keempat, pertumbuhan tersebut membawa tanggung jawab bagi Live Project untuk tidak hanya berkembang dari sisi skala dan pertunjukan, tetapi juga terus meningkatkan kualitas pengalaman yang diberikan kepada pengunjung.
Berbagai masukan dari penyelenggaraan sebelumnya menjadi bagian penting dalam mempersiapkan Live Project 2026. Pengelolaan arus pengunjung, kenyamanan fasilitas, crowd management, hingga kualitas sistem penataan suara menjadi beberapa aspek yang dievaluasi.
Berangkat dari evaluasi tersebut, Live Project melakukan berbagai penyempurnaan pada aspek-aspek tersebut. Maka dari itu, berbagai pembaruan tersebut menjadi bentuk komitmen Live Project dalam menerjemahkan masukan audiens menjadi peningkatan nyata menuju penyelenggaraan yang lebih aman, nyaman, dan terkelola dengan baik.
Terinspirasi dari ungkapan Mens Sana in Corpore Sano, konsep yang dibawa oleh Live Project tahun ini bersama NKSTHI lahir dari semangat untuk memberikan ruang bagi “sambatan” atau keluhan sebagai bagian yang wajar dari pengalaman manusia sehari-hari.
Live Project ingin mengajak audiens untuk melihat bahwa mengeluh tidak selalu berarti buruk, tetapi dapat menjadi cara untuk memahami dan mencerna sesuatu yang dirasa belum berjalan sebagaimana mestinya.
Mens Sambat in Corpore Sano akan menghadirkan pengalaman interaktif yang mengajak pengunjung berinteraksi, merespons, dan menemukan berbagai bentuk sambatan melalui rangkaian instalasi visual dan bahasa sehari-hari sepanjang perjalanan menuju area pagelaran.
Live Project bersama NKSTHI ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya mengajak pengunjung untuk menikmati musik, namun juga memberi ruang untuk berbagai keluh kesah sehari-hari sebagai bentuk stress release.
Kolaborasi berangkat dari kesamaan pandangan bahwa sebuah festival musik dapat menjadi ruang bagi para pengunjung bergembira sekaligus merayakan berbagai perasaan, dari hal-hal yang menyenangkan hingga sambatan yang selama ini mungkin hanya tersimpan.
“Kami sudah mendengarkan berbagai masukan dari penyelenggaraan sebelumnya. Kami memandang semua masukan tersebut sebagai bagian penting dari proses kami belajar. Tahun ini kami tidak hanya melakukan pembenahan secara operasional,” kata Adi Sudono Rahmat, Festival Director MHT Live, Jumat (14/8/2026).
Bersama NKSTHI, ia juga mencoba menghadirkan pendekatan baru melalui Mens Sambat in Corpore Sano, agar pengalaman penonton/pengunjung di Live Project tahun ini terasa lebih relevan dan menyenangkan.
Pihak NKSTHI, Mas Aik mengatakan, bahwa ketika ngobrol dengan Live Project, kami melihat ada semangat yang sama: masalah yang memang bisa diperbaiki tentu harus diperbaiki, tetapi pengalaman yang tetap harus dijalani bisa kita respons dengan cara yang lebih menyenangkan.
“Dari situlah kami mencoba membawa sambat menjadi bagian dari pengalaman Live Project tahun ini,“ sambung Mas Aik.
Upaya Live Project untuk terus memperbaiki pengalaman pengunjung juga mendapatkan respons positif dari Manajer Sheila On 7, Adam Subarkah, yang melihat potensi gelaran ini untuk terus tumbuh sebagai agenda musik tahunan yang selalu patut ditunggu, terutama di kancah musik Semarang dan Indonesia secara umum.
“Kami melihat Live Project punya potensi menjadi salah satu momen yang harus dinantikan setiap tahun. Harapannya, penonton bisa datang, menikmati konser dengan nyaman, dan pulang membawa pengalaman yang menyenangkan,” katanya.
Adam mengatakan Live Project 2026 membawa dua pendekatan yang berjalan beriringan: melakukan pembenahan terhadap berbagai aspek yang dapat ditingkatkan, sekaligus menghadirkan cara baru dalam membangun pengalaman audiens.
Melalui peningkatan operasional dan kolaborasi kreatif bersama NKSTHI, Live Project ingin menjadikan setiap tahap perjalanan pengunjung sebagai bagian yang sama pentingnya dengan pengalaman menikmati pertunjukan di atas panggung.
Adi Sudono menambahkan, Live Project ingin terus menghadirkan festival yang tidak hanya semakin besar, tetapi juga semakin matang dalam membangun pengalaman yang nyaman, bermakna, dan berkesan.
“Bagi kami, setiap evaluasi harus diterjemahkan menjadi langkah nyata, setiap masukan menjadi bagian dari pembelajaran, dan setiap pembaruan menjadi bentuk komitmen kami untuk terus bertumbuh bersama audiens,” tutup Adi.
Live Project merupakan festival musik tahunan di Semarang yang diprakarsai oleh MHT Live sejak tahun 2022. Festival ini memadukan pertunjukan musik lintas genre untuk penikmat musik lintas generasi.
Melalui konsep tersebut, Live Project berkomitmen menyajikan hiburan berskala nasional di Semarang guna mendorong pemerataan industri hiburan sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif lokal. (eko/redaksi)

19 hours ago
4

















































