Batang, infojateng.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (Undip) melakukan pemetaan kualitas air tanah di Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi air tanah yang menjadi salah satu sumber air bersih dan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Pemetaan juga menjadi langkah awal untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas air tanah, terutama di wilayah yang berada relatif dekat dengan kawasan pesisir.
Program pemetaan Kualitas Air Tanah (KAT) dilaksanakan mahasiswa Program Studi Teknik Geologi Undip, Ibnu Rafi Abrar Pratama. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program multidisiplin KKN dengan tema kebersihan dan sanitasi desa.
Program tersebut selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi yang layak.
Ibnu menjelaskan, pengujian kualitas air tanah dalam pemetaan awal tersebut menggunakan sejumlah parameter fisik, yakni Total Dissolved Solid (TDS), Daya Hantar Listrik (DHL), dan derajat keasaman (pH).
“Parameter yang diperlukan dalam menguji KAT terdapat beberapa sifat fisik air tanah berupa Total Dissolved Solid (TDS), Daya Hantar Listrik (DHL), dan derajat keasaman atau pH,” jelas Ibnu.
Menurutnya, TDS digunakan untuk mengetahui konsentrasi unsur mineral yang terlarut dalam air. Sementara DHL menjadi salah satu parameter yang berkaitan dengan kandungan garam atau ion penghantar listrik dalam air.
Survei 47 Sumur Warga
Pengambilan data dilakukan melalui beberapa tahapan. Mahasiswa terlebih dahulu melakukan reconnaissance atau survei tinjau, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan data secara langsung melalui survei dari rumah ke rumah.
Data yang diperoleh selanjutnya diolah untuk menyusun peta parameter fisik dan peta kelayakan air minum.
Sebanyak 47 titik sumur menjadi lokasi pengujian. Titik tersebut tersebar di Padukuhan Kedungsegog dan kawasan Perumahan Nelayan.
Dari hasil pemetaan, sebanyak 29 dari 47 sumur yang diuji berdasarkan parameter fisik masuk dalam kategori layak minum.
“Hasil pemetaan dan pengolahan data menunjukkan sebanyak 29 dari 47 sumur yang diujikan parameter fisiknya tergolong ke dalam sumur dengan air layak minum,” terangnya.
Meski demikian, hasil pengujian parameter fisik tersebut belum menjadi penentu akhir kelayakan air untuk dikonsumsi.
Ibnu menjelaskan, pemetaan parameter fisik merupakan tahap awal untuk mengetahui kondisi air tanah. Pengujian lebih lanjut di laboratorium diperlukan untuk mengetahui parameter kimia dan kandungan material organik dalam air.
Jadi Dasar Pengelolaan Air Bersih
Kegiatan pemetaan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi sumber air tanah yang digunakan masyarakat Desa Kedungsegog.
Hasil pemetaan juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan sumber air bersih di desa, termasuk untuk menentukan lokasi yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.
Melalui program pemetaan Kualitas Air Tanah ini, mahasiswa KKN Undip berharap masyarakat Desa Kedungsegog dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai kondisi air tanah di lingkungan desa, sekaligus menjadi dasar pertimbangan dalam pengelolaan sumber air bersih ke depannya. (eko/redaksi)

1 day ago
6

















































