Batang, infojateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang melalui Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) menyiapkan langkah antisipatif menghadapi potensi kekeringan akibat musim kemarau panjang.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyiagakan pompa air di 50 desa rawan kekeringan guna menjaga pasokan air bagi lahan pertanian.
Langkah tersebut menjadi bagian dari mitigasi dini untuk menjaga produktivitas pertanian, terutama menjelang musim tanam (MT) ketiga dan kemungkinan berlanjut ke musim tanam keempat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispaperta Batang, Rini Diana Anggriani, mengatakan hingga Juni 2026 kondisi pertanaman padi di Kabupaten Batang masih relatif aman.
Adapun luas tanam padi tercatat mencapai 4.390 hektare dan belum ada laporan kekeringan dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).
Menurut Rini, kondisi tersebut tidak lepas dari berbagai upaya preventif yang telah dilakukan pemerintah, mulai dari rehabilitasi jaringan irigasi tersier hingga pembangunan sarana konservasi air.
“Tahun ini cukup banyak penanganan irigasi yang dilakukan. Harapannya dapat menjadi langkah menghadapi dampak El Nino maupun musim kemarau panjang, dan saat ini sudah banyak wilayah yang tertangani melalui program tersebut,” katanya saat ditemui di Kantor Dispaperta Batang, Senin (20/7/2026).
Meski demikian, ia mengimbau petani agar tidak memaksakan masa tanam apabila ketersediaan air irigasi belum mencukupi.
Petani juga diminta aktif berkoordinasi dengan penyuluh pertanian apabila mulai mengalami kendala pasokan air sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Sementara itu, Sekretaris Dispaperta Batang, Syam Manohara, mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti peringatan dini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait potensi musim kemarau yang lebih panjang.
“Kami sudah mempersiapkan berbagai langkah menghadapi musim tanam ketiga bahkan kemungkinan musim tanam keempat, terutama untuk mengantisipasi potensi kekeringan di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Syam menjelaskan, strategi utama yang disiapkan adalah mengoptimalkan pemanfaatan pompa air yang telah ditempatkan di 50 desa. Selain itu, Dispaperta juga menyiapkan pompa cadangan yang dapat segera didistribusikan apabila terjadi kondisi darurat.

“Sebagian pompa saat ini masih digunakan di wilayah Celapar. Selain itu, kami juga memiliki pompa cadangan di gudang yang siap didistribusikan sewaktu-waktu apabila ada wilayah yang mengalami kekurangan air,” katanya.
Dispaperta memetakan tujuh kecamatan sebagai wilayah yang memiliki risiko lebih tinggi terdampak kekeringan, yakni Kecamatan Pecalungan, Reban, Tersono, Bawang, Wonotunggal, Bandar, dan Blado.
Kawasan tersebut didominasi wilayah perbukitan dan lahan tadah hujan yang lebih rentan mengalami penurunan pasokan air saat musim kemarau.

Selain memperkuat sarana pengairan, pemerintah daerah juga menyesuaikan penyaluran bantuan benih dari APBD. Bantuan hanya akan disalurkan ke lahan yang memiliki kecukupan air guna menghindari risiko gagal tanam.
“Pada musim kemarau seperti sekarang, pendistribusian benih akan menyesuaikan kondisi lapangan. Jika lahan masih kering, penyaluran dilakukan setelah turun hujan atau setelah kebutuhan air dapat dipenuhi melalui pompa pengairan,” jelas Syam.
Hingga saat ini, Pemkab Batang memastikan kondisi pertanaman masih dalam kategori aman dan terus dipantau secara berkala.

Melalui penguatan infrastruktur irigasi, penyediaan pompa air, serta koordinasi dengan penyuluh pertanian di lapangan, Dispaperta berharap produktivitas sektor pertanian di Kabupaten Batang tetap terjaga meski menghadapi ancaman musim kemarau panjang. (eko/redaksi)

2 days ago
7

















































